Quran,  Tahfidz

Aku Takut Menghafal Qur’an

Memang ada yang takut ngafal Qur’an? Ada.. Setiap ada seseorang yang bilang belum mulai menghafal Qur’an dengan alasan takut, jujur saya sedih dengernya.. kenapa? Setelah ditelusuri lebih lanjut, penyebabnya adalah persepsi masyarakat kita sendiri. Lho kok bisa? ya sebenarnya masyarakat bermaksud baik, tapi karena penyampaiannya belum tepat atau setengah-setengah, alhasil alih-alih sebagai kalimat pengingat malah menimbulkan momok yang menakutkan di masyarakat.

Postingan ini merupakan lanjutan dari postingan sebelumnya. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, setelah tahsin, sering baca, dan sering berinteraksi dengan Al Qur’an, tahap selanjutnya ialah mulai menghafal. Namun sebelum kita bahas tahapan dalam menghafal, terlebih dahulu kita bahas persepsi-persepsi yang salah terhadap kegiatan menghafal Qur’an, agar saat menghafal lebih semangat dan tak ada perasaan ragu. Persepsi-persepsi yang salah itu harus diluruskan, sebab jika dibiarkan yang terjadi, maka akan menghambat pertumbuhan jumlah para penghafal Qur’an. Selain itu, ia juga akan menghambat seseorang dalam proses menghafal itu sendiri.

Apa saja persepsi yang salah terhadap kegiatan menghafal Qur’an?

#1 Aku takut ngafal Qur’an. Soalnya kalau lupa, nanti dosa besar.

Benar memang, ada haditsnya pula. Tapi seharusnya penyampaiannya dituntaskan ? Lupa yang bagaimanakah yang dimaksud? Menurut Dr. Ahsin dalam bukunya “Renungan Kalam Langit” dan dibahas juga di bukunya “Menghafalkan Al Qur’an”. Ada tiga tingkatan lupa, yang pertama lupa hafalan. Jika diingatkan, langsung ingat kembali, maka bisa dikategorikan lupa biasa, bawaan manusia sebagai tempat salah dan lupa, tapi kalau sudah diingatkan tapi tidak ingat-ingat berarti itu kurang muraja’ah hafalan. Nah, ada dua kemungkinan kenapa intensitas muraja’ahnya kurang. Jika disebabkan karena sibuk mencari nafkah full seharian atau kondisi sakit berat, maka itu bisa dikatakan udzur syar’i, dan untuk memperbaikinya yaitu dengan berusaha mengatur waktu yang lebih baik lagi. Namun jika disebabkan karena malas, maka ini bukan termasuk udzur syar’i, perlu bersegera istighfar yang banyak dan harus menumbuhkan semangatnya kembali. Kemudian tingkatan lupa yang kedua yaitu lupa bacaan, ini tingkatan lupa lanjutan, di mana tidak cukup hanya istighfar, ia juga harus segera memperbaiki diri dan harus belajar kembali, mengembalikan bacaan dan hafalannya. Selanjutnya, baru nih ini yang dimaksud yaitu tingkatan lupa yang paling parah dan berdosa besar, yaitu lupa ajaran, di mana ia menyengaja meninggalkan hafalannya sebab sudah tak peduli lagi. Misal kisah tabi’in yang hafal 30 juz lalu murtad sebab menikahi seorang wanita kafir romawi,  ‘Abdah bin ‘Abdurrahiim.

Kesimpulannya, bagi seorang penghafal Qur’an, selama terus muraja’ah dan lupanya lupa biasa, lupa bawaan manusia, tidak masalah. Tidak ada salahnya bagi penghafal Qur’an untuk membuka mushaf, jadi kalau lupa ya tinggal dibuka lagi aja mushafnya.

“Tidak ada hafalan yang lupa, yang ada hanyalah hafalan yang mengendap karena tidak dimuroja’ah. Tidak ada hafalan yang awet, yang ada hanyalah hafalan yang selalu dimuroja’ah. Tidak ada metode yang salah, yang salah  yaitu yang tidak muroja’ah” – KH. Deden Makhyaruddin, M.A.

#2 Aku takut ngafal Qur’an. Belum siap, belum pantas, mau memperbaiki diri dulu.

Ini kalau dijadikan alasan, entah kapan kita akan memulai menghafal Qur’an ??‍ Perlu sesempurna apakah kita? Justru bisa jadi proses menghafal kita ini lah yang menjadi wasilah kita dalam memperbaiki diri. Apalagi jika proses menghafalnya dengan memahami maknanya juga, maka sangat berpeluang besar dari hasil pemahaman kita terhadap maknanya, akan menyentuh hati kita dan berujung pada perubahan di setiap aktivitas kita. Dengan membacanya sering saja akan menimbulkan perubahan yang baik pada diri kita, pada hati kita, fisik kita, pikiran kita, maupun keseharian kita. Lantas bagaimana dengan memahami maknanya? Akan terjadi ‘event-event‘ luar biasa yang akan kita temukan.

#3 Aku takut ngafal Qur’an. Buat apa ngafal Qur’an, kalau ngga diamalkan, kan yang penting diamalkan.

Ini fatal sekali. Entah bermula muncul darimana ? Tapi kenyataannya memang benar ada yang mengatakan seperti itu. Jika kita hanya mengandalkan logika kita, mungkin bisa jadi benar pernyataan tersebut. Namun akan beda cerita, jika kita memahaminya dengan iman juga, tidak akan muncul pemahaman seperti itu. Mengapa? Jangankan menghafal, membacanya saja sudah berpahala begitu banyak, sepuluh kali lipat tiap hurufnya. Jangankan membaca dengan lancar, membacanya yang masih terbata-bata saja diberikan pahala dua kali lipat. Jangankan membacanya yang masih terbata-bata, punya keinginan membacanya saja sudah dihargai menjadi hamba-Nya yang terpilih. Lalu, apalagi menghafal Qur’an? Yang mau menghafal satu ayat saja diulang berpuluh-puluh kali. Justru dengan menghafal Qur’an, akan menimbulkan rasa kedekatan kita kepada Allah, menimbulkan rasa takut kepada Allah, menimbulkan rasa ingin berlomba-lomba menjadi yang terbaik dihadapan Allah, yang pada akhirnya akan menimbulkan usaha untuk mengamalkan apa yang ada di dalam Al Qur’an dan berusaha mengamalkan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Harapannya setelah pembahasan ini, tidak ada lagi dari kita yang takut untuk menghafal Qur’an.

Masih takutkah Anda? #to be continue

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *