Contemplation

Sia-sia Berdoa, Doaku Tak Dikabulkan

Begitulah kurang lebih yang ada dalam pikiran sebagian orang ? Umumnya pikiran seperti itu muncul pada diri seseorang disebabkan karena ia belum memahami seperti apa kekuatan dan esensi sesungguhnya dari sebuah doa, bagaimana proses sebuah doa bisa terbang naik hingga ke langit, hingga bisa menyentuh ‘Arsy, bagaimana proses jawaban dari sebuah doa, dan mengapa ia harus meyakini adanya kekuatan pada tiap doa yang ia panjatkan.

Sebenarnya untuk membedakan doa kita akan dikabulkan atau tidak, indikatornya cuma satu. Apa itu? Yakin kalau doa itu akan dikabulkan. Terus kalau yakin dikabulkan, pasti dikabulkan? ? Ya, pasti.. Tapi, masalahnya karena kita belum memahami proses dari jawaban sebuah doa, jadi langsung menyimpulkan bahwa doanya tidak dikabulkan, yang padahal sebenarnya telah ‘dikabulkan’ ?

Proses jawaban sebuah doa itu pasti di-‘kabulkan’ selama kita yakin. Jadi tidak ada istilah doa sia-sia selama kita yakin. “dibilangin.. beneran kok ada doa ane yang ga dikabulin walaupun udah yakin ?”. Gan, Sis, begini.. Misal ada seseorang, dia sudah yakin kalau doanya pasti dikabulkan, lalu dijawab sama Allah.. tapi karena belum paham bagaimana proses jawaban sebuah doa, dia jadi tidak sadar kalau sebenarnya doanya itu lagi dalam proses dikabulkan atau bahkan sebenarnya sudah dikabulkan.

Ada empat mode pengabulan doa-doa kita. Tiap doa yang kita panjatkan dengan penuh keyakinan, pasti ada salah satu dari empat mode jawaban ini.

Mode #1 ’Aajilan, (عَاجِلاً) dijawab sesuai dengan yang kita panjatkan dan sesuai dengan waktu yang kita inginkan.

Nah bentuk jawaban pertama inilah yang umumnya diketahui sebagai satu-satunya indikator apakah doa kita dikabulkan atau tidak ? Alhasil jika patokannya hanya ini saja, maka pada saat kita mendapatkan apa yang diinginkan dan waktunya juga tepat sesuai keinginan kita, kita bahagia. Tapi pada saat kita tidak mendapatkannya, langsung bilang “Ya Allah kenapa?” lalu kecewa, tidak legowo, dan putus asa ?

Namun jika kita memahami bahwa bentuk pengabulan doa tidak hanya dengan mode #1, yang akan terjadi justru sebaliknya, tidak putus asa, tidak kecewa, legowo, qana’ah, dan harapan terus ada. Memang Allah tidak memberikan tepat sesuai dengan apa yang kita inginkan, tapi Allah tetaplah mengabulkan doanya. Lho? Kok bisa? Udah jelas-jelas berlawanan dengan doa kita ?. Maka dari itu perlu dipahami juga tiga bentuk pengabulan doa lainnya.

Mode #2 Aajilan (أَاجِلاً dijawab sesuai dengan yang kita panjatkan, tapi waktunya tidak sesuai yang kita inginkan)

Ada kemungkinan, pada saat doa kita tidak dijawab dalam bentuk jawaban mode #1, Allah menjawab dengan proses yang kedua yaitu penundaan waktu. Jadi, sebenarnya Allah mengabulkan hanya saja Allah akan memberikannya di waktu yang tepat, pada saat kita siap, pada saat hasil dari doa kita akan menghasilkan manfaat maksimal untuk diri kita, pada saat hasil dari doa kita tidak membawa keburukan pada kita dan sekitar kita, dan pada saat hasil dari doa kita akan membawa kita menjadi lebih dekat dengan-Nya ?

Misal.. “Ya Allah luluskan hamba dalam seleksi proses penerimaan mahasiswa baru di Universitas X Negara Y”. Kita sudah berusaha, IPK tinggi, IELTS tinggi, surat rekomendasi dari profesor hebat, motivation letter bagus, administrasi lengkap. Tapi ternyata pada waktu pengumuman, kita tidak lolos. Apakah kita akan mengatakan “Ya Allah kenapa? Kurang apa lagi usaha saya?” Ini hebatnya manusia ? sudah lemah, pengetahuannya yang hanya setetes air laut atau bahkan kurang, tapi tetap sombong. Padahal ada kemungkinan Allah menjawab dengan mode #2. Jadi, ada kemungkinan, bahwa menurut Allah, kita belum siap jika nanti diterima di universitas tersebut pada saat itu, atau universitas tersebut tidak akan menghasilkan manfaat yang maksimal untuk diri kita jika diterima pada saat itu, atau jika kita diterima pada saat itu justru ada beberapa hal yang buruk akan terjadi atau mendatangi kita, atau bahkan bisa saja jika kita diterima pada saat itu, ternyata akan membuat kita jauh dari Allah ?

Lalu pada periode pendaftaran berikutnya, kita mencoba lagi, dan ternyata kali ini kita lolos. Maka benarlah Allah menjawab doa kita dengan jawaban mode #2, Allah tahu bahwa kita akan mendapatkan yang terbaiknya jika kita lolos diperiode pendaftaran berikutnya, dan memang hanya Allah yang tahu, kita tidak tahu sedikit pun mengetahui hal itu. Tugas manusia hanya terus berusaha, berdoa, dan tawakkal. Wallahu ya’lamu wa antum laa ta’lamuun.

Mode #3 Diganti/ dibelokkan (tidak dijawab sesuai dengan yang kita inginkan, tapi diganti dengan yang lebih ‘baik’)

Lalu, ada juga kemungkinan jika Allah akan menjawab dengan mode #3, di mana menurut Allah keinginan kita bukanlah maslahat untuk kita. Lagi, karena Allah Maha Tahu, tahu yang terbaik untuk hamba-Nya, maka pada saat kita terus memohon sesuatu, maka jika dibayangkan kurang lebih Allah akan menjawab seperti ini kepada kita:

Wahai hamba-Ku, engkau bersemangat sekali berdoa agar bisa masuk ke Universitas X Negara Y, usaha engkau untuk ke sana bisa dibilang luar biasa, tapi tahukah kamu wahai hamba-Ku yang taat, sesungguhnya keinginan engkau bukanlah yang terbaik, tapi usaha dan doa-doamu untuk bisa ke sana tidaklah sia-sia, pasti Aku kabulkan, akan Aku kabulkan dengan memberikan yang ‘terbaik’, tentu ‘lebih baik’ dari keinginanmu itu, sesuatu yang lain, sesuatu yang tak akan engkau sangka-sangka, sesuatu yang akan membuat engkau akan menjadi lebih dekat kepada-Ku, sesuatu yang akan membuat engkau akan menjadi lebih bermanfaat kepada orang-orang di sekitarmu”. Jadi masih perlu kecewa? :”

Maksud diganti yang lebih ‘baik’, yang ‘terbaik’, baik di sini konteksnya yang terbaik menurut Allah untuk kita, bukan berdasarkan hitung-hitungan logika akal kita. Misal ingin masuk universitas X negara Y, ternyata ditolak, berarti kalau yang lebih baik berarti nanti diterima di universitas Z negara A dong yang university rankingnya lebih tinggi ? Bukan begitu maksudnya, ya bisa saja begitu, jika memang yang terbaik menurut Allah itu kebetulan sama dengan terbaiknya versi hitung-hitungan manusia, tapi patokan dasarnya bukan begitu, tidak selamanya versi terbaiknya manusia itu versi terbaiknya menurut Allah juga. Bisa jadi, justru diterima di universitas Q di negara sendiri yang lebih rendah university rankingnya. Tapi ternyata setelah masuk, kita baru sadar bahwa di universitas Q lah kita dipertemukan dengan teman-teman yang sholih/ah, pengajar-pengajar yang selalu mengingatkan kita untuk terus selalu di jalan-Nya, pegawai-pegawainya memiliki perangai akhlak yang baik yang bisa kita contoh, atau bahkan ternyata bisa jadi kita dipertemukan dengan jodoh yang selama ini kita mohon doanya agar segera dipertemukan justru dengan perantara universitas Q ini ? Wallahu ya’lamu wa antum laa ta’lamuun.

Jadi, pada saat doa kita tidak dijawab dengan mode #1 atau #2, maka kondisikan hati dan pikiran kita, bahwa ada kemungkinan Allah akan menjawab dengan mode #3 ini. InsyaAllah, tidak akan timbul perasaan kecewa sama sekali, sebab dalam pikiran kita tetap “doaku pasti dikabulkan”.

Mode #4 Berubah menjadi amal baik yang akan memberatkan timbangan kanan kita di hari akhir nanti

Inilah bentuk terakhir atas jawaban doa kita. Berharap masuk universitas X negara Y, ternyata ditolak, masih berpikiran positif, “mungkin tahun depan, doaku pasti dikabulkan”, ternyata tahun depannya pun tetap ditolak, lalu masih berpikiran positif, “mungkin belum rezekinya di universitas X negara Y, insyaAllah masih bisa masuk di universitas terbaik di negeri sendiri, doaku pasti dikabulkan”, ternyata sudah sampai lima tahun kemudian bahkan lebih, tidak diterima di mana-mana. Lalu apakah kita akan menyimpulkan doa kita sia-sia? Kecewa? Protes ke Allah apa yang kurang? Kenapa tidak dikabulkan?

Ya Allah ampuni hamba-hamba-Mu ini jika kami masih memiliki perasaan kecewa terhadap Engkau. Sungguh rasa kekecewaan itu muncul tidak lain hanyalah karena ketidaktahuan kami dan karena lemahnya kami mengendalikan hawa nafsu kami” ?

Jika ternyata Allah tidak menjawab doa kita dengan mode #1, #2, ataupun #3, sampai tibalah akhir masa hidup kita, sehingga kita tak bisa merasakan hasil dari doa yang selalu kita panjatkan, maka Allah akan mengubah segala permohonan doa kita yang belum dijawab dengan ketiga mode sebelumnya menjadi sebuah tumpukan pahala yang akan memberatkan timbangan amal baik kita di hari akhir kelak. Doa-doa itu membantu kita meraih surga-Nya.

Lalu, masihkah kita merasa doa-doa kita sia-sia jika tidak dikabulkan sesuai dengan keinginan kita? Jika masih, maka bersiaplah kekecewaan akan terus menghantui kita sebab masih juga belum memahami proses jawaban dari sebuah doa.

Sebagai catatan untuk diingat, doa-doa kita akan dikabulkan dan akan menjadi nikmat dengan salah satu mode jawaban di atas, jika dan hanya jika kita yakin doa kita akan dikabulkan + berdoa bukan dengan tujuan melakukan dosa + kondisi kita selalu dalam keadaan beriman dan menaati perintah-Nya.

Jika tidak yakin, pastilah tidak akan dikabulkan. Jika berdoa dengan maksud buruk melakukan dosa atau kemaksiatan, pastilah tidak dikabulkan. Jika doa kita dikabulkan pada saat kita beriman dan selalu menaati perintah-Nya, maka pengabulan doa itu menjadi rezeki dan nikmat, tetapi jika doa itu dikabulkan pada saat kita tidak taat pada-Nya, maka pengabulan doa itu merupakan ujian, jika kita tetap maksiat maka istidraj sedang mengotori hati kita, tapi jika berubah menjadi taat, maka kita lolos ujian.

Catatan lagi, kasus di atas (yang universitas) hanyalah contoh saja. Bisa berlaku untuk semua hal, dalam masalah pekerjaan, jodoh, kesehatan, dan lain sebagainya. Sebagai tambahan, kecepatan doa kita agar sampai ke langit menyentuh ‘Arsy itu bervariasi, sehingga diharapkan kita berdoa dengan sebaik mungkin, seperti berdoa-doa pada saat waktu yang mustajab (misal saat hujan, antara azan iqomah, sujud terakhir sholat, antara dua khutbah, dsb.) dan selalu memperhatikan adab-adab saat berdoa (misal selalu diawali dengan memuji Allah, tak ketinggalan juga shalawat, menghadap kiblat, dsb.). Berdoalah spesifik, jangan takut, bukannya kita ngatur-ngatur, Allah memang tempat kita meminta, meminta apa aja, Allah Maha Besar, Allah Maha Kuasa, Allah tinggal bilang kun, tapi jangan lupa setiap setelah kita berdoa spesifik, ucapkan “Itulah yang hamba minta kepada-Mu, jika ia mendatangkan maslahat untuk hamba maka kabulkanlah, jika tidak, maka rencana yang terbaik adalah rencana-Mu, maka berikanlah yang terbaik menurut Engkau

Akhir kata.. Jangan sampai kita menjadikan segala doa kita yang pernah dipanjatkan sia-sia ?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *