Contemplation,  Stories

Cinta Dulu Baru Nikah atau Nikah Dulu Baru Cinta?

Sebenarnya untuk menulis postingan kali ini saya mikir dua kali ? Sebab nanti dibilang sok sudah pernah menikah aja, padahal masih jomblo ? Tapi karena kemarin ternyata banyak pandangan mengenai hal ini, ada yang tidak setuju kalau menikah tapi belum ada rasa cinta, sebagian ada yang menganggapnya tak masalah, ada juga yang bilang baiknya menikah dulu sebab menikah itu sendiri salah satu bukti awal cinta yang diekspresikan dengan tepat, dan lain sebagainya. Tanggapannya pada serius ya. Tapi ada juga respon yang bercanda, dikira saya mancing-mancing pembahasan tentang ini, lalu dikomentari “buruan disegerakan, jangan cuma posting-posting aja” ?? kalau menjawab komentar yang sejenis ini, doakan saja ???

Ada juga yang penasaran bagaimana dengan pandangan saya sendiri ke masalah ini, nah saya tulislah pandangan saya di postingan kali ini. Karena saya belum menikah, tapi berusaha menyampaikan pandangan mengenai hal ini, maka sebagai catatan, pandangan ini berdasarkan beberapa pengalaman saya saat merasakan ‘cinta’ di masa lampau dan beberapa nasihat dari guru saya.

Kalau bagi saya sendiri, seperti biasa ya jawabannya diplomatis ? Jadi menurut saya, tak masalah mau menikah dulu baru cinta atau cinta dulu baru menikah, asal beberapa kondisi harus terpenuhi. Tetapi, jika hal-hal itu tidak terpenuhi, maka mau nikah dulu baru cinta atau cinta dulu baru nikah, maka menurut saya, lebih baik untuk tidak menikah dulu, pikir-pikir kembali.

Pertama, saya setuju dengan adanya timbul rasa cinta dulu baru menikah. Keadaan ini bisa dikatakan tepat selama 1) rasa cinta itu disikapi dengan tepat hingga pernikahan, dan 2) cinta itu merupakan rasa cinta yang berupa karunia dari Allah, bukan mengikuti hawa nafsu. Sebuah cinta sejati, bukan cinta semu. Bagaimana kita bisa tahu jika cinta itu karunia Allah atau karena hanya hawa nafsu?

Kata guru saya, yang namanya cinta itu memang sering kali membuat kita semangat mengerjakan sesuatu, sampai lupa segalanya. Pada awalnya ini wajar, manusiawi, berlaku untuk semua hal, bukan hanya dalam konteks cinta kepada seseorang saja. Nah, selanjutnya bisa tetap wajar atau juga bisa jadi tidak wajar. Sebuah rasa cinta bisa menjadi tidak wajar, jika kita salah menyikapinya atau kita menjadi salah karenanya.

Hanya beberapa cinta ‘khusus’ yang tidak akan menimbulkan hal yang tidak wajar, cinta pada Allah dan Rasul-Nya, cinta kepada Al Qur’an, cinta kepada kedua orang tua, dan cinta kepada saudara mukmin lainnya (dalam kepentingan agama-Nya). Jikalau pun ada yang mengaku memiliki cinta ‘khusus’ itu, tapi perilakunya tidak sesuai, maka ada dua kemungkinan, 1) dia masih berproses, masih berusaha mengekspresikan cinta ‘khusus’nya atau 2) dia salah memahami cinta ‘khusus’ tersebut, misal dia merasa benar dalam melakukan sesuatu yang buruk atas nama cinta ‘khusus’nya itu, untuk yang ini yang disalahkan oknumnya ya, bukan siapa yang dicinta. Ingat, selanjutnya yang akan saya bahas di sini adalah cinta di luar cinta khusus itu, jadi tidak berlaku pada cinta ‘khusus’.

Jika sebuah cinta membuat seseorang mengabaikan kewajiban-kewajibannya, lalu menjadi malas sebab rasa cintanya itu ia prioritaskan di atas kewajiban-kewajibannya, kemudian bertindak aneh-aneh biar dilihat yang dicinta keren dan sebagainya, berarti itu cinta semu, cinta yang seperti ini harus dihindari. Menikah karena cinta yang seperti ini? Saya tidak setuju, sebab kita menjadi berperilaku tidak tepat karena cinta tersebut, belum menikah aja sudah kacau seperti itu, bagaimana setelah menikah? Apa akan terus berpura-pura biar dilihat yang dicinta ‘wow’? Terus udah tahu aslinya, nanti kecewa. Mengatur kewajiban utama saja belum bisa, bagaimana nanti ditambah kewajiban baru lagi?

Kemudian, jika rasa cinta itu harus diungkapkan kata-kata sayang yang mesti diketahui umum. Maka menikah karena cinta yang seperti ini saya juga tidak setuju. Sebab apa? Jika yang sebelumnya salah karena cinta, tapi untuk yang ini, karena salah menyikapi sebuah rasa cinta, kita dikalahkan oleh hawa nafsu. Dua jenis cinta ini tidak layak untuk diperjuangkan, bahkan tidak layak disimpan walau sementara.

Kata guru saya, cinta bisa membuat buta dan tuli, jika.. cintanya itu terbebat oleh nafsu.. sebaliknya, jika ia bebas dari nafsu, ia akan mencerahkan hati dan membuat jiwa lebih peka. Terus yang setuju kalau cintanya yang bagaimana? Yang mencerahkan hati itu yang bagaimana? Yang membuat jiwa lebih peka itu yang bagaimana?

Saya setuju dengan nasihat guru saya, apa yang beliau katakan? Beliau bilang jika cinta itu mampu sambung dari hati ke hati dalam diam, jika cinta mampu membuat seseorang untuk bisa berkontemplasi bahwa ada Pemilik Segala Cinta, Pemilik Segala Hati, Pemilik Segala Hal yang Indah, jika cinta itu terbangun oleh rasa saling percaya tanpa harus diungkap dengan kata-kata mesra, jika cinta itu mampu mengantar kita tersungkur dalam sujud untuk menangis tersengguk-sengguk, jika cinta itu tetap membuat enak makan dan enak tidur, jika cinta itu mampu mengantar seseorang pada perubahan yang positif… maka tak masalah jika menikah karena cinta yang seperti ini.. Cinta sejenis ini akan mudah masuk ke hati yang dicinta jika muncul dengan ketulusan, tanpa harus lewat gombalan ataupun senyuman yang menjerumuskan. Nah.. yang seperti ini layak diperjuangkan.

Tips dari guru saya, jika kita jatuh cinta, maka ukurlah, apakah membuat kita makin jauh dari Allah atau makin dekat? Berarti kalau ada yang pacaran, terus sering mengingatkan tahajud, shalat fardhu jamaah, mengingatkan baca Quran, itu berarti cintanya tepat? Bukan yang begitu Gan Sis, kalau itu syariah jadi topeng aja buat pacaran, tidak ada yang namanya pacaran syar’i. Lha terus mengukurnya bagaimana? Ya tidak pacaran, tidak pakai mengingatkan dengan kata-kata spesial segala, untuk “si dia” saja lagi, kalau mengingatkan ibadah, ya ingatkan semua orang sekitar kita, keluarga kita, saudara-saudara kita, sahabat-sahabat kita, tidak pilih-pilih mengingatkan siapa, apalagi cuma mengingatkan yang dicinta. Kalau benar hanya mengingatkan dia saja, berarti itu hawa nafsu, syariah jadi topeng, suatu proses cari perhatian terselubung.

Kedua, menikah dulu baru cinta. Untuk yang ini, menurut  saya juga tak masalah jika memang keduanya menikah bukan karena keterpaksaan, keduanya komitmen membangun keluarga yang diridhoi Allah pasca menikah, dan keduanya terus berusaha sungguh-sungguh membuktikan komitmen tersebut. Misal katanya ada kasus anak perempuannya dipaksa dinikahkan oleh bapaknya karena alasan-alasan kepentingan bapaknya, misal untuk melunasi hutang-hutangnya, atau bapaknya mengincar harta calon menantu. Secara pribadi memang saya belum pernah menemukan secara langsung kasus seperti ini, hanya beberapa orang sekitar bercerita, katanya ada seperti yang itu, ya semoga saja tidak, tapi kalau dipikir-pikir secara akal sehat, ya memang masuk akal jika ada kemungkinan kasus seperti itu terjadi. Kemudian, jika tanpa ada komitmen dan kesungguhan keduanya untuk berusaha saling mencintai pasca menikah, maka akan sulit juga terwujud “cinta karena menikah”. Jadi menikah dulu baru cinta, it’s ok, jika ketiga hal itu terpenuhi.

Jadi kesimpulannya seperti yang saya bilang, pandangan diplomatis : Menikah karena cinta, tak masalah jika…., dan tidak setuju jika…. Begitu juga nikah dulu baru cinta, tak masalah jika….., dan tidak setuju jika….

Pesan dari guru saya.. Jangan sedih saat cinta kita bertepuk sebelah tangan, itu artinya dia bukan yang terbaik untuk kita. Saat cinta kita bertepuk sebelah tangan, jangan berpikir bahwa dunia telah kiamat. Hidup ini terlalu indah untuk dibuat sedih-sedih seperti itu. Jika ada yang masih pacaran, terus tidak bisa menerima nasihat sebab terbius oleh cinta… Maka ia belum dewasa.

Sekian~ Just my opinion~

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *