Contemplation,  Quran,  Ramadan

4 Tipe Pembaca Qur’an

Sudah lama tak menulis, greget. Tapi apa daya, pergantian lingkungan, berbeda juga pengaturan waktunya hehe, harus menyusun lagi pengalokasian waktu untuk menulis. Nah mengingat sekarang lagi bulan Ramadhan, bisa dipastikan kita akan mendapati bahwa salah satu ibadah yang banyak dikejar yaitu baca Al Quran. Jika kita amati, ternyata orang baca Quran itu macam-macam lho. Nah postingan kali ini mau bahas tentang tipe-tipe pembaca Quran. Ada empat tipe, apa saja itu?

#1 Tanpa Quran, Tetap Hidup

Orang yang masuk tipe pertama ini merasa bahwa hidupnya tetap merasa berjalan dengan lancar meski tak membaca Al Quran. Sebenarnya ia tahu kalau baca Al Quran itu dapat pahala, akan menjadi lebih dekat dengan surga, dan mendapat kebaikan-kebaikan lainnya. Hanya saja kegiatan membaca Al Quran baginya belum masuk dalam kategori kebutuhan. Tentu saja banyak faktornya, bisa karena kurangnya motivasi, kemudian pengaruh lingkungan, terlalu fokus dengan kesibukan di dunia, belum datang hidayah kepadanya, atau bahkan bisa jadi itu istidraj yang ditimpakan kepadanya, misal pas sekalinya baca Quran, eh ternyata hasil pekerjaannya jadi kurang maksimal, sehingga ya sudah mending tak membaca Al Qur’an saja.

Tipe yang satu ini, jika ditanya “ada waktu baca buat Al Quran atau tidak dalam satu pekan?”, jawabannya “belum pasti baca juga sih dalam sepekan hehe” atau “jarang bangeet, ya paling berapa menit“. Pencapaian tilawahnya, untuk menamatkan satu juz dalam satu bulan, belum tentu selesai.

Jika kita termasuk tipe yang pertama ini, maka saran saya adalah pertama coba introspeksi diri, untuk awalannya pegang saja mushaf, diliat-liat aja dulu, buka-buka lembarannya secara acak, sesekali melirik terjemahannya. Selanjutnya begitu lagi, tapi ada penambahan dikit, sambil baca barang kali 1-3 ayat. Terus saja lanjutkan itu secara kontinyu, tentunya dengan penambahannya juga, tak perlu banyak-banyak, namanya juga permulaan, sedikit-sedikit tidak apa-apa.

Kemudian pada waktu-waktu kosong, coba buka YouTube lalu search dengan keywords sejenis “emotional quran recitation” atau “pemuda buta yang hafidz” atau “anak ini menangis saat membaca quran tanpa tahu artinya” dan lain sebagainya. Lalu coba bergaul dengan kawan yang banyak berinteraksi dengan Al Quran. Selanjutnya pahami juga apa itu istidraj, sebab istidraj itu posisi ternyamannya manusia di dunia, dengan balasan yang keras menunggu di akhir, sebab saking nyamannya, orang yang kena istidraj itu sulit sekali untuk bergerak, mengubah orientasi ke akhirat.

#2 Tanpa Quran, Merasa Berdosa

Orang yang masuk tipe kedua ini dalam menjalankan aktivitas sehari-harinya biasa saja, lancar. Hanya saja terkadang di beberapa momen ia akan merasakan “duh udah lama ngga baca Quran“. Kemudian setelah beberapa baca, aktivitas sehari-harinya tetap lancar, berbeda dengan tipe yang pertama di mana saat baca Quran justru pekerjaan dunianya jadi tidak maksimal. Orang tipe kedua ini, saat baca atau tidak baca Quran, tak terasa dampaknya, jadi sebenarnya dia merasa biasa saja, namun di hati kecilnya ia merasakan ada kewajiban sebagai seorang muslim untuk membaca dan mempelajari Al Quran.

Tipe yang ini, jika ditanya ada waktu atau tidak untuk baca Quran tiap pekannya. Ia akan menjawab, “ya paling sisa waktu aja setelah semua urusan lain selesai” atau “ya kadang-kadang, kalau lagi tidak padat kegiatannya“. Pencapaian tilawahnya, satu juz bisa selesai kurang dari 1 bulan (asumsi 1 halaman per hari, berarti satu juz 20 hari).

Jika kita termasuk tipe yang kedua ini, maka pertama-tama kita bersyukur terlebih dahulu sebab kita masih dikaruniai “rasa bersalah” “rasa berdosa”, itu salah satu hidayah, tidak semua orang mendapatkannya. Selanjutnya dimaksimalkan dengan mencari kawan dan lingkungan yang dekat dengan Al Quran. Coba tiap setelah shalat, berdoa agar bisa lebih dekat dengan Quran. Coba juga malam harinya dihidupkan dengan tahajud, lalu berusahalah untuk menangis pada momen tersebut, terserah mau penyebab nangisnya apa, mikirin apa, yang penting nangis, ini berguna untuk melunakkan hati kita. Misal bisa dengan bayangin kita bakal mati besok tapi kita belum siap, atau orang tua kita yang jauh di sana meninggal belum sempat ketemu lagi, atau bayangin tugas pekerjaan kita yang tidak selesai-selesai, atau bayangin jodoh yang kita incar di tag sama orang lain duluan, atau bayangin penyakit kita yang tidak sembuh-sembuh, dan lain sebagainya. Terserah mau mikirin apa, yang penting bisa nangis dulu aja. Tetap tidak bisa nangis? Coba nangis karena kenapa kita tidak bisa nangis 🙁 Sebab saat hati kita lunak dan kita tidak berdaya dengan masalah-masalah yang kita bayangkan, yang kemungkinan akan kita hadapi, maka kita akan merasa butuh bantuan Allah.

#3 Tanpa Quran, Tidak Asyik

Nah tipe yang ketiga ini, menurut saya tipe minimalnya kita sebagai muslim. Pada tipe ini, ia akan merasakan hari-harinya hambar jika belum membaca Quran. Umumnya, dia sudah memiliki beberapa kawan atau guru yang bisa mendorongnya untuk lebih dekat dengan Al Quran, dan lingkungannya pun mendukung. Setelah shalat, kalau melihat ada mushaf di samping, biasanya tergerak untuk menyentuhnya, membukanya, dan membacanya. Meskipun kuantitas bacanya belum tentu banyak, tapi pencapaian tilawahnya satu juz itu bisa selesai dalam waktu kurang sepekan, karena frekuensinya membacanya yang banyak. Habis shubuh sehalaman, habis dzuhur sehalaman, habis ashar sehalaman, dan seterusnya, tahu-tahu tanpa terasa sehari dia sudah membaca seperempat juz, dalam empat hari satu juz selesai.

Jika ditanya “ada waktu untuk baca Quran?” jawabannya “yaa bisa lah diada-adain“. Jika kita termasuk tahap ketiga ini, maka usaha selanjutnya adalah memperdalam Al Quran lebih lanjut, agar bisa mencapai ekstase dalam membaca Al Quran.

#4 Tanpa Quran, Mati

Tipe terakhir ini merupakan tipe di mana kita sudah bisa merasakan kenikmatan yang luar biasa dengan membaca dan mempelajari Al Quran. Tak peduli di lingkungan mana, ia akan merasakan bahwa Al Quran adalah sebuah kebutuhan yang hakiki. Sebab pada tahap ini, motivasi untuk membacanya sudah berasal dari sendiri. Interaksi dengan Al Qurannya sangat sering. Pada titik ini, ia sudah menemukan sesuatu yang membuat dia tidak bosan dengan Al Qur’an. Pencapaian tilawahnya pun satu hari bisa satu juz bahkan lebih. Mengapa? Sebab jika ditanya “ada waktu untuk baca Quran?” jawabannya “pasti ada“.

Lalu, tipe manakah Anda?

Tipe pertama? Ayo segera move on! Tipe kedua? Bersyukurlah dan terus memperbaiki diri. Tipe ketiga? Jangan lupa sujud syukur dan mohon doa agar bisa menjadi lebih baik lagi. Tipe keempat? Sujud syukur, jaga hati, jangan sombong, tetap rendah hati, dan mohon doa agar tetap diistiqomahkan. Selamat berproses menjadi pribadi muslim yang lebih baik 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *