Contemplation,  Ramadan,  Stories,  Tech

Antara Dakwah dan Riya’

Jika sesuai rencana dan urutan draft, harusnya kali ini saya harus memposting tentang Ramadhan edisi menyongsong 10 malam terakhir. Namun postingan kali ini mau tidak mau harus saya dulukan untuk di publish ? pasalnya lebih urgent untuk dibaca teman-teman. Urgensi ini mulai muncul pasca saya woro-woro mengenai grup tentang aplikasi evaluasi ibadah. Rasa kekhawatiran mulai muncul pada saat teman-teman mau gabung, ada yang udah gabung tapi masih ragu, ada yang udah gabung lalu ingin keluar. Alasan yang dikemukakan? saya memahaminya. Kurang lebih garis besarnya adalah karena takut ibadahnya jadi tidak ikhlas, takut jatuhnya ke riya’, takut tidak lillah, dan sejenis lainnya.

#Dilema antara riya’ dan dakwah

Saya juga dulu pernah merasakan hal seperti itu, beberapa tahun lalu, kondisi di mana saya harus berusaha menyembunyikan segala ibadah yang saya lakukan. Tentu dengan alasan-alasan yang sama, seperti yang telah disebutkan sebelumnya. Hingga pada momen tertentu, saya menyadari dampaknya, bahwa saya berusaha untuk menjadi baik sendirian, saya mengabaikan kondisi kawan-kawan yang lain. Saat itu, saya merasa ada yang salah. Kemudian saya berpikir dan menarik kesimpulan bahwa untuk melakukan hijrah, seseorang memang tak bisa langsung sadar sendiri tanpa ada yang mendorong atau memotivasi, tak bisa juga kita paksa seseorang untuk berubah drastis dan menuntut keikhlasan yang tinggi tanpa ada insentif. Saya ingat, saya sendiri dulu kalau dipikir-pikir, perubahan yang saya lakukan juga diawali karena adanya ‘insentif’, ‘motivasi’, dan ‘keterpaksaan’.

Apakah dulu saya memulai menghafal Quran karena kesadaran sendiri? Tidak. Pada waktu itu insentif semacam dari hadits misal yang berupa pahala, kebaikan, memberikan mahkota ke orang tua, dan sebagainya, itu tidak mempan, saya merasa hal itu tidak berpengaruh pada diri saya, ya apalah itu, abstrak begitu, jadi dalam pikiran saya, saya tidak mendapat apa-apa. Lalu tiba saat di mana ada sebuah peraturan yang membuat saya ‘terpaksa’ agar menghafal Qur’an. Jika mendasarkan pada hal penyebabnya, tentu saja berarti saya menghafal Qur’an dengan kondisi tidak ikhlas, tidak lillah. Kemudian apakah dulu saya bisa punya semangat jamaah shalat lima waktu di masjid karena kesadaran sendiri? Tidak. Lagi-lagi ada peraturan. Kondisi yang memaksa ini membuat saya menjadi beribadah tanpa ikhlas. Masih begitu banyak contoh begitu tidak ikhlasnya saya dalam beribadah karena ada yang memaksa. Tapi itu hanya pada awalnya. Jadi saya merasa ibadah saya saat ini semuanya  sudah ikhlas? Bukan, bukan begitu, biarkan ikhlas apa tidak ikhlas itu hubungan saya sama Allah saja, tapi poin yang didapat adalah seiring berjalannya kondisi yang memaksa itu terus berjalan, hal itu menimbulkan kebiasaan, menimbulkan sikap spontan untuk melakukan rutinitas yang ‘dipaksa’ tersebut, dan pada titik tertentu saat peraturan itu tak mengikat lagi, ia bisa membuat seseorang merasa kehilangan kebaikan dari adanya peraturan tersebut.

Contoh lainnya yaitu karena insentif. Ayo datang ke kajian! Efektif? Ya efektif bagi orang yang sudah sadar dan yang sudah terpaut hatinya dengan masjid. Target lainnya? Bisa jadi kurang efektif. Maka disediakanlah di masjid-masjid berupa makanan, takjil, atau semacam lainnya bagi yang mengikuti kajian. Apa hasilnya? Jangkauan ajakan kajian lebih jauh, segmentasinya bisa lebih luas, bisa menyasar ke pemuda-pemuda yang masih ragu sebab ada rasa pengen ikut kajian, tapi rasa malas menyerang. Ikhlaskah mereka yang ikut? Tak perlu dinilai, poin pentingnya adalah yang ikut kajian bisa menjadi lebih banyak. Mungkin awalnya sebagian yang datang karena ada insentif tersebut, tapi bisa jadi ‘ketidakikhlasan diawal’ tersebut selanjutnya bisa jadi perantara ia mendapat hidayah, berbuah kebiasaan menjadi sering ke masjid, dan pada titik tertentu saat insentif itu sudah tidak ada lagi, mereka tetap datang kajian.

Contoh lainnya karena ada motivasi. Nah pendapat saya, untuk mengenai aplikasi evaluasi ibadah bersama itu termasuk dalam kategori ini. Untuk memulai memahaminya, kali ini saya coba menceritakan pengalaman sendiri lagi. Selain keterpaksaan yang telah saya ceritakan sebelumnya, semangat menghafal pada diri saya juga tumbuh saat ada kemunculan beberapa orang di sekitar saya yang memiliki hafalan banyak. Pada waktu itu, saat jadi makmum shalat, dapat imam bacaannya surat non juz ‘amma, ada rasa iri, sekaligus kesal juga “ih panjang banget bacaannya, sombong banget nih, pamer, mentang-mentang udah hafal“. Apakah benar sang imam pamer, riya’? Tak perlu dinilai, keikhlasan seseorang itu wallahu a’lam. Tapi poinnya adalah saya dibuat iri dan kesal, tapi di sisi lain saya juga terpicu. Pada saat saya belum pernah melakukan shalat-shalat sunnah, misal sunnah rawatib, dhuha, tahajud, dan sebagainya. Lagi-lagi, dimulai karena saya melihat beberapa orang melakukannya, saya jadi terdorong. Apakah orang-orang yang ibadah sunnahnya saya lihat itu riya’?

Pada lain waktu, pernah saya ikut lomba bersama kawan saya. Lalu mendapat penginapan disebuah wisma. Bentuknya seperti apartemen, jadi dalam satu ruangan ada dua kamar dan satu ruangan tengah besar. Satu kamarnya diisi tiga kasur single, jadi ada 6 orang (campur, ada muslim dan non muslim). Pada saat itu kami (berdua sama kawan saya), ingin shalat sunnah. Saya waktu itu usul ke kawan saya, di kamar aja, tumpuk dulu kasurnya (karena ga muat kalau ngga ditumpuk) kalau diruang tengah ga enak. Tapi kawan saya malah jawab, udah di ruang tengah aja sekalian syiar. Saya jawab oke baiklah, sambil perkataannya saya cerna baik-baik, ya benar juga sih. Bisa jadi dakwah juga, tapi hati kecil lain saya lainnya khawatir. Bukankah ini juga bisa jatuh ke riya’?

Setelah saya pikir panjang, ternyata banyak hal yang seperti itu. Beberapa kali jadi makmum, saat diimami sama orang yang bacaannya panjang banget, dulu sempat terpikir “ih mentang-mentang hafalan banyak“, saat imam bacaannya bagus banget, dulu juga sempat terpikir “ini dibuat-buat ya, kalau lagi shalat sendiri, begitu juga kah?“, saat imam baca dengan qiraat lain, dulu juga sempat terpikir “ih pamer“. Ya dulu saya pernah berpikir sampai segitunya. Tapi apa? tanpa saya sadari, saya terpicu untuk ikutan menghafal juga, mulai nyoba ikut-ikut suara imam X yang bagus, imam Y yang syahdu, dan saya juga jadi kenal dengan berbagai qiraat Quran. Akhirnya saya pun mengikuti cara syiar kawan saya, saya tiru imam-imam tersebut, dengan harapan orang-orang disekitar saya juga bisa mendapatkan apa yang saya rasakan, hidayah yang saya dapatkan. Apakah saya riya’?

Pada status-status sosial media juga pun sebenarnya itu, saat kita berusaha memposting status-status atau caption yang berusaha mengingatkan, nasihat, arahan, dan sejenisnya. Harapannya siapa yang membaca statusnya, jadi sadar, jadi taubat, ada yang mau maksiat akhirnya ngga jadi, kan pahala tuh. Apakah kita mengurungkan untuk memposting hal-hal tersebut karena takut dikatakan sok shalih sama orang lain? Hmm, ya itu juga bukannya bisa jadi riya’ juga?.

Begitu juga dengan aplikasi evaluasi ibadah bersama, kurang lebih seperti itu juga. Cara kerja aplikasi itu sama seperti kalau kita ngajak ibadah secara langsung sebenarnya, yuk ngaji dulu, yuk shalat dulu, dan seterusnya. Bedanya kalau aplikasi, ngajaknya jarak jauh.  Selain itu, ada juga saat di mana yang memicu juga bisa jadi terpicu, yang terpicu juga bisa menjadi pemicu. Itulah baiknya aplikasi ini. Mendorong untuk berlomba-lomba menunaikan kebaikan, apalagi saat Ramadhan seperti saat ini, bisa dipakai untuk berlomba-lomba i’tikaf berburu lailatul qadr ? Tapi bukannya itu juga bisa jadi riya’, kan jadi pada pamer ibadahnya. Benarkah jadi riya’?

Ingat apa yang saya bahas sebelumnya. Apa poin pentingnya? Menimbulkan kebiasaan. Dakwah? InsyaAllah jadi dakwah dan syiar. Ikhlas? Wallahu a’lam, jangan sibuk menilai orang, fokuslah berlomba-lomba dalam kebaikan. Untuk membuat yakin keikhlasan kita, kita antisipasi agar tidak jatuh ke riya’.

#Tips agar tidak jatuh ke riya’

Pada umumnya, ada informasi asimetris yang kita dapatkan mengenai riya’. Kita tahunya hanya:

Riya’ itu terjadi saat kita ibadah bertujuan untuk pamer, sehingga menunaikan ibadah di publik bisa menimbulkan riya’.

Apa informasi yang kurang? Yaitu di mana riya’ juga bisa terjadi saat kita tidak jadi menunaikan ibadah karena takut dianggap riya’. Jadi riya’ itu:

Ibadah atau tidak ibadahnya kita karena untuk mendapatkan penilaian baik dari orang lain atau untuk menghindari penilaian buruk dari orang lain.

Tidak sedikit orang yang jatuh riya’ karena tidak jadi ibadah sebab takut dikatain orang, misal pas di kampus mau sholat dhuha tuh di mushola, eh ternyata di mushola ada beberapa orang, trus berpikir “ah ga jadi deh, takut nanti dikatakan riya’“. Apa akibatnya? Tanpa sadar, kita riya’ karena takut riya’. Hebat yak bisa gitu. Maka dari itu tips yang pertama yaitu luruskan niat, innamal a’malu binniyat, asal udah diniatkan lillah, tak peduli apa kata orang. Mereka ngga tahu isi hati kita, cuma Allah yang ‘alimum bidatis shuduur. “kan itu ada awal niatnya, bisa jadi di tengah jalan sebelum amalnya sampe, eh goyah niatnya“. Nah biar ga goyah ikuti tips yang kedua.

Biasanya rasa takut riya’ itu datang disebabkan karena banyaknya waktu saat kita sendirian tapi tak dipakai untuk ibadah, giliran ada waktu menyendiri, malah dipakai chattingan, main game, dan sebagainya. Misal orang yang tak biasa shalat malam, terus ada acara mabit bersama organisasinya, ada kemungkinan besar saat ia shalat malam pada acara mabit tersebut ia merasa takut jatuh riya’, “duh saya cuma shalat malam pas ada acara beginian aja, pas banyak orang, pas sendiri ga pernah ?”

Ziz, kamu sudah merasa banyak ibadah pada waktu sendirinya gitu? kok ga takut riya’ gitu?” eits, ingat jangan sibuk nilai orang. Jangan lupa, aib saya yang segunung pun saya tutupin. Sangat mungkin sekali aib yang saya tutupin itu lebih banyak daripada ibadah yang saya tutupin. Tapi kembali lagi, fokus saya adalah dakwah.

Begitu juga dengan di aplikasi, daftar ibadah yang ada di aplikasi tersebut masih sangat sedikit dari total ibadah yang bisa kita lakukan. Apa yang dilombakan di aplikasi tersebut hanya mencakup ibadah-ibadah wajib dengan harapan jika ada yang masih meninggalkan ibadah wajib, bisa ikut terdorong. Ga ikhlas dong? Ingat jangan dinilai, fokus ke poin dampaknya. Lalu ada juga ibadah yang berupa kebiasaan baik, misal senyum, olahraga, dan sebagainya. Lalu ada juga ibadah-ibadah sunnah (dan itu sunnah-sunnah yang familiar saja), dengan harapan sunnah-sunnah yang familiar tersebut juga bisa jadi kebiasaan, dan tentunya masih sangat banyak ibadah yang tidak dipantau oleh aplikasi tersebut. Maka tips yang kedua adalah perbanyak ibadah yang dilakukan di waktu-waktu saat sendiri, dan dalam kasus aplikasi, perbanyak ibadah yang tak dijadikan target di aplikasi tersebut, jadi kita bisa dakwah tanpa khawatir jatuh ke riya’ engga ya.

Kemudian ada tips tambahan khusus mengenai grup di aplikasi evaluasi ibadah bersama, pastikan tidak satu grup dengan ‘seseorang’ *paham lah ya maksudnya wqwq*. Lha kenapa? takut dinilai orang tersebut? Bukan begitu, kalau ini sudah beda cerita, bagaimana cara menyikapinya lebih kompleks sebab berkaitan dengan perasaan.

Mengapa harus mengutamakan dakwah dan syiar? Pertama, kondisi kawan atau orang sekitar. Idealnya, kita seharusnya memiliki semangat untuk tidak ingin menjadi baik sendiri, shalih sendiri, shalihah sendiri. Jangan sampai kita rajin shalat wajib, amalan sunnah banyak, sering ikut kajian, dan sebagainya, tapi teman terdekat kita, jangankan sunnah, shalat wajibnya saja bolong-bolong. Jika pun memang demikian, pastikan itu bukan disebabkan karena ia tak pernah merasa mendapatkan dakwah dari kita. Lalu kedua, jangan samakan tingkat keimanan setiap orang. Bisa jadi, si A cukup diajak, langsung bilang oke, lalu si B, baru bisa oke kalau ada apa-apanya, lalu si C, kurang motivasi, butuh teladan, lalu beda lagi dengan si D yang harus dipaksa, dan sebagainya.

Terakhir, tetap keputusan ada di setiap masing-masing individu bagaimana cara menyikapi dakwah dan kewaspadaanya pada riya’. Pesan saya, kita memang harus waspada dengan riya’, wajib bahkan, tapi jangan sampai kewaspadaan itu mempersempit ladang dakwah kita ?

In uriidu illal ishlaha mastatho’tu wa maa taufiqii illa billah ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi uniib~

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *