Ramadan

Ramadhan Kita Bulan Tanam atau Panen?

Hari ini sudah memasuki hari ke-25 bulan Ramadhan. Terasa begitu cepat~ Apalagi sekarang prediksi bulan Ramadhannya 29 hari ?

Saat ini setiap muslim di seluruh dunia sedang gencarnya berlomba-lomba dalam kebaikan, lebih gencar dari bulan lainnya. Sebab tiap kebaikan yang dilakukan pada bulan Ramadhan, balasannya dilipat gandakan. “…Barangsiapa (pada bulan itu) mendekatkan diri (kepada Allah) dengan satu kebaikan, ia seolah-olah mengerjakan satu ibadah wajib pada bulan yang lain. Barangsiapa yang mengerjakan satu perbuatan wajib, ia seolah-olah mengerjakan 70 kebaikan di bulan yang lain…” Meskipun ada sebagian ulama yang mendhaifkan hadits tersebut, tapi karena hadits tersebut memenuhi lima syarat bolehnya hadits dhoif digunakan, jadi bisa digunakan. Intinya ya pahala kebaikan yang dilakukan di bulan Ramadhan jelas sangat luar biasa. Bulannya saja sudah termasuk bulan yang mulia, bulan yang diberkahi, bulan di mana Al Quran diturunkan, bulan di mana ada salah satu malamnya sama dengan kebaikan 1000 bulan. Pada saat sahur, ada keberkahan. Siangnya kita dalam keadaan berpuasa, doa tak tertolak. Pada saat waktu berbuka, waktu doa yang mustajab. Setiap malam yang biasa kita isi dengan hanya tidur atau pekerjaan atau hiburan, di bulan Ramadhan, ada ibadah khusus di malam harinya, dan keutamaan-keutamaan lainnya yang begitu banyak.

#Pastikan bulan Ramadhan kita menjadi salah satu bulan: bulan mulai tanam amal ibadah atau bulan panen amal-amal ibadah kita.

Jika kita amati orang-orang sekitar kita, maka kita akan mendapati bahwa ada sebagian orang yang sudah siap-siap menghadapi bulan Ramadhan jauh sebelum Ramadhan tiba. Mereka melakukannya dengan maksud memulai pemanasan ibadah, ya agar terbiasa dan tidak kaget dengan peningkatan intensitas ibadah yang akan dilakukannya di bulan Ramadhan. Tentu saja harapannya adalah mereka bisa memanen hasilnya yang banyak di bulan Ramadhan. Tahukah kamu? Bahkan dulu para sahabat Rasul ada yang mempersiapkan 6 bulan sebelum! Lalu kita? coba flashback dulu, ada persiapankah?

enak ya yang udah bisa siap-siap, yang udah ditumbuhkan semangat Ramadhannya jauh-jauh hari ?

Hehe tetap semangat ya, memang ada sebagian lainnya yaitu yang kebalikan dari sebagian kelompok tadi. Ya mereka belum siap-siap, bahkan ada yang sampai H-1 masuk Ramadhan pun belum menyiapkan sama sekali. Tentu banyak faktornya, bisa jadi karena sibuknya pekerjaan, tugas-tugas kuliah, dan lain sebagainya, atau bisa jadi memang bawaannya malas. Udah giliran pekerjaan selesai, terus pulang kampung, tetap berat kan kalau memang belum terbiasa hehe, hayo mesti cari alasan-alasan lain lagi. Namun, meski belum menyiapkan, saya yakin dalam hati kecil orang-orang ini pasti ada keinginan untuk melakukan ibadah dan kebaikan di bulan Ramadhan ini lebih dari biasanya.

Alhasil, bagi yang belum siap-siap tentu saja dalam perjalanannya di bulan Ramadhan ini butuh perjuangan yang besar bahkan terkadang terseok-seok, semisal ada beberapa hari yang bolong tilawahnya, atau ada hari yang bolong tarawihnya, dan sebagainya. Ya mau bagaimana lagi sebab memang belum terbiasa ? Misal udah hari ke 25 nih, tapi baca Qurannya masih lagi juz 16 jauh banget ?, padahal udah pasang target, tapi ya karena memang belum terbiasa tadi, target pun sulit dikejar. Lantas bagi yang belum menyiapkan.. Apakah sudah terlambat untuk mendapatkan hasil dalam bulan Ramadhan ini? Tenang saja, ga ada kata terlambat dalam hal beginian, masih ada waktu untuk terus memperbaiki, dengan syarat ajal belum menjemput~

Sebenarnya untuk bisa melihat apakah kita itu memulai tanam amal ibadah karena Ramadhan atau memanen hasil amal di bulan Ramadhan, baru akan terlihat setelahnya. Ya, nanti akan terlihat di sepanjang 11 bulan setelahnya. Kalau dianalogikan, ini ibarat seperti pohon.

#Bagi yang panen amal ibadah di bulan Ramadhan, bersyukurlah dan tetap istiqomahlah.

Misal jika kita termasuk yang sudah jauh-jauh menyiapkan Ramadhan sebelumnya semenjak bulan Rajab, berarti kita mulai menanam benih-benih pohonnya mulai dari bulan Rajab, lalu bulan Sya’ban tumbuh batangnya dan keluar bunganya, setelah itu pas Ramadhan mulai berbuah. Tapi itu belum selesai, bagi kelompok pertama ini masih harus memastikan bahwa buahnya itu memang enak dimakan. Nah rasa enak itu akan bisa diketahui sepanjang bulan 11 setelahnya. Bagaimana?

Jika setelah Ramadhan ini berlalu, ketaatan kita kepada Allah terus bertambah, maka bisa kita pastikan bahwa buah yang dihasilkan itu enak. Mulai dari usaha persiapan hingga panen amal kita selama Ramadhan ternyata berhasil, bahkan ada kemungkinan besar juga itu tanda kita mendapatkan kemuliaan lailatul qadr. Sebagai catatan: taat di sini bukan seperti malaikat, kita manusia biasa yang kemungkinan itu ada masa naik turunnya iman (ya kecuali Anda seorang nabi, maksum, dijaga dari kesalahan-kesalahan). Terus masih bisa dikatakan oke, jika  turunnya itu memang tidak terlalu fatal (yang fatal misal menjadi musyrik) dan senantiasa langsung bertaubat. Ya intinya minimal tingkat taatnya lebih baik dari sebelum Ramadhan~

Lalu sebaliknya, jika setelah Ramadhan justru kita kembali lembek ibadahnya, ketaatan kepada Allah berkurang, atau bahkan jadi tidak taat, udah gitu tidak taubat-taubat, bisa kita pastikan bahwa buah yang dipanen itu langsung membusuk, dimakan ulat, atau dimakan kelelawar. Mulai dari penanaman benih (persiapan Ramadhan) hingga saat berbuah (amalan selama Ramadhan), itu rapuh (tak berdampak pada diri kita), dan kemungkinan besar juga di 10 hari terakhir Ramadhan kita tak mendapatkan kemuliaan lailatul qadr~ Maka dari itu, jangan lupa untuk selalu memperbanyak baca doa “Allahumma innaka ‘afuwwun, tuhibbul ‘afwa fa’fu’anni” sepanjang 10 hari terakhir Ramadhan ini. Setelah Ramadhan berlalu, berusahalah agar selalu istiqomah dalam beribadah.

#Bagi yang baru tanam amal ibadah di bulan Ramadhan, bersabarlah dan teruslah berjuang.

Selanjutnya buat kita yang belum persiapan sebelum Ramadhan, tetaplah semangat, jangan khawatir. Tugas kita memastikan setelah Ramadhan, benih-benih yang mulai kita tanam, bisa tumbuh dan berbuah. Untuk yang ini kasusnya high risk high return. Jika tidak berhasil, maka hasilnya bisa lebih buruk dari kelompok panen tadi. Sudah tidak panen, menanam biji pun tidak tumbuh ?

Tapi jika kita berhasil maka keuntungan yang kita dapatkan besar sekali. Mengapa? itu berarti tanda Ramadhan telah berhasil mengubah kita menjadi pribadi muslim yang lebih baik, dan setelah kita melewati 11 bulan tersebut insyaAllah kita diberikan kesempatan lagi untuk panen amal di Ramadhan berikutnya. Selanjutnya, masuklah kita kategori kelompok panen amal.

Nih saya punya tips, kalau setelah Ramadhan ini, kita nge-down nih, inget Ramadhan bulan ini coba, “Ya Allah, saya ga mau Ramadhan saya yang lalu sia-sia, tolong bantu” “Ya Allah, saya ga mau buah Ramadhan yang sudah saya hasilkan tak enak rasanya“, “Ya Allah saya maksiat lagi, apakah Ramadhan saya yang lalu sia-sia?. Coba mengingat kembali usaha kita saat Ramadhan, betapa tidak mudahnya menyediakan waktu buat Al Quran, beratnya bangun malam demi mengejar lailatul qadr, dipaksanya tubuh kita untuk mengejar keberkahan sahur, dan tantangan ibadah lainnya. InsyaAllah, dengan kita mengingat Ramadhan sebelumnya, itu akan berdampak positif dan sangat membantu.

Jika kita tak mampu mengingatnya, maka benar sudah, Ramadhan tak membekas dihati kita, tak memberi dampak positif ke kita~ Ada yang salah dengan diri kita, kita harus untuk introspeksi, mencoba menangisi kenapa ini terjadi, kalau ga bisa nangis karena itu, maka mencoba untuk menangisi kenapa kita tidak bisa nangis.

Terakhir, perjalanan Ramadhan sesungguhnya masih panjang, sudah siap untuk mengetahui hasil Ramadhan kita tahun ini ??

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *