Contemplation,  Ramadan,  Tadabbur

“Hebatnya” Manusia: Lemah Tapi Sombong

Kita selalu ingin bisa dekat dengan Allah. Sebab kita menyadari bahwa jika dekat dengan-Nya, hati akan selalu menjadi tenang, seberapa besar pun masalah yang dihadapi. Lalu kita juga menyadari, untuk bisa dekat dengan-Nya, salah satu caranya adalah dengan menjauhi maksiat.

Menjauhi maksiat itu sulit~

Ya benar.. kita juga menyadari bahwa menjauhi maksiat itu sulit, apalagi buat orang seperti kita yang imannya masih begitu tipis. Tak bisa dipungkiri bahwa kita sering jatuh ke dalam kemaksiatan, baik itu maksiat lisan, maksiat mata, maksiat pendengaran, maksiat perilaku, maksiat hati, dan maksiat-maksiat lainnya. Kita sadar kita lemah~

Tapi Allah begitu baik.. Bagi kita yang lemah dan sudah jatuh ke dalam kemaksiatan, diberikan kesempatan lagi untuk bisa kembali dekat dengan-Nya, yaitu dengan taubat (4: 17)

إِنَّمَا ٱلتَّوْبَةُ عَلَى ٱللَّهِ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ ٱلسُّوٓءَ بِجَهَٰلَةٍۢ ثُمَّ يَتُوبُونَ مِن قَرِيبٍۢ فَأُو۟لَٰٓئِكَ يَتُوبُ ٱللَّهُ عَلَيْهِمْ ۗ وَكَانَ ٱللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًۭا

Sayangnya, kita itu sombong. Kita merasa hidupnya abadi atau minimal selalu merasa hidupnya masih panjang.

“nanti aja deh taubatnya, kalau udah pensiun”

“nanti aja deh taubatnya, kalau udah berkeluarga”

“nanti aja deh taubatnya, kalau udah mapan, harta banyak”

Kita merasa pasti hidup hingga masa pensiun, kita merasa pasti diberikan kesempatan untuk berkeluarga, merasa pasti akan diberi harta melimpah. Padahal kematian itu paling dekat, lebih dekat dari ketiga hal tersebut, lebih dekat dari apapun. Kita sombong~

وَسَارِعُوٓا۟ إِلَىٰ مَغْفِرَةٍۢ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا ٱلسَّمَٰوَٰتُ وَٱلْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

Makanya Allah menyuruh kita dalam hal mencari ampunan (taubat) itu harus segera. Perintahnya itu “wasaari’uu…” yang berarti segeralah! bukan “fas’au…” seperti mau sholat Jumat, yang diberi tanda jika waktunya mau tiba lalu diberi juga waktu untuk siap-siap. Tapi realitanya? Kita selalu menunda-nunda untuk taubat.

Aneh bukan? Ingin dekat sama Allah, agar dimudahkan dalam segala urusannya, tapi.. kitanya maksiat terus, diberi kesempatan taubat pun menunda-nunda. Wajar dong kalau kita tidak dibantu, eh kita malah protes. Padahal juga sudah jelas, kalau yang malas bertaubat itu diberikan ancaman, ga tanggung-tanggung lagi ancamannya, azab yang pedih (4:18)

وَلَيْسَتِ ٱلتَّوْبَةُ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ ٱلسَّيِّـَٔاتِ حَتَّىٰٓ إِذَا حَضَرَ أَحَدَهُمُ ٱلْمَوْتُ قَالَ إِنِّى تُبْتُ ٱلْـَٰٔنَ وَلَا ٱلَّذِينَ يَمُوتُونَ وَهُمْ كُفَّارٌ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ أَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًۭا

So, buat kita.. manusia-manusia yang imannya masih tipis dan sudah jatuh kedalam kemaksiatan, pilihannya cuma dua:

  1. Sadar hidupnya ga lama, lalu taubat.. nanti bisa dekat lagi dengan-Nya, dan jika sudah dekat, kalau minta dibantuin itu pasti dibantuin.
  2. Sombong, merasa jauh dari kematian, yang berujung kepada malasnya bertaubat.. alhasil tinggal menunggu saja ancaman itu terealisasikan, dan kalau nanti minta dibantuin sama Allah tapi ngga dibantuin, ya jangan protes. Kenapa? lha dekat saja tidak. Ibarat kalau minta sesuatu ke orang yang tidak dikenal, “pak bu, minta sebagian uangnya dong, buat ane nanti foya-foya” kebayang kan jawabnya? “ente siapa minta-minta? pede amat, buat hal yang ga bener lagi”~

Terakhir, mari kita maksimalkan penghujung Ramadhan kita 🙂

Kuda saja tahu kalau mau sampai garis finish itu larinya makin cepat~

Mari bertaubat, mari jauhi maksiat. Yang masih mau melakukan maksiat, silakan saja, asal yang penting jangan ketahuan sama Allah~

Sebab bukan mengenai bagaimana kita mengawali Ramadhan kali ini, mungkin kita memang menyambutnya begitu meriah.. tapi yang diukur adalah bagaimana kita menjalani dan mengakhiri Ramadhan kali ini, apakah menghasilkan ketaatan yang bertambah? atau sebaliknya.

“Berbuat baiklah di sisa-sisa Ramadhan niscaya diampuni (kesalahanmu) yg berlalu, maka manfaatkanlah hari-hari yang tersisa, karena anda tidak tahu kapan bisa meraih Rahmat Allah” – Hasan al Bashri

Ini hari terakhir Ramadhan kali ini, insyaAllah.. Selamat berkontemplasi 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *