Contemplation,  Ramadan,  Tadabbur

After Ramadan

Memang benar, jika melihat perkembangan, saat ini sudah banyak masjid yang menyediakan fasilitas i’tikaf, dan jama’ah yang i’tikaf pun juga banyak. Tapi pada saat yang sama, berkurangnya jama’ah di masjid-masjid yang lain juga tak kalah sedikit ? Awal Ramadhan shaf-shaf masjid penuh, mulai masuk pertengahan mulai berkurang, makin akhir terus berkurang. Semakin di penghujung Ramadhan tampak bahwa tidak sedikit orang yang lupa akan esensi dari bulan Ramadhan, kita lupa tujuannya. Itu pun saat masih Ramadhan. Bagaimana jika Ramadhan berlalu seperti saat ini?

Yuk kita cari tau tips-tips agar setelah Ramadhan ini, kita bisa tetap memiliki semangat Ramadhan. Mari kita simak 7 taujih (arahan) dari Al Qur’an langsung.

#1 Jangan sampai lupa tujuan puasa Ramadhan 🙂

Hampir semua muslim sudah tahu, banyak juga yang sudah hafal karena saking seringnya diangkat dikajian, dibaca imam pas shalat jama’ah, dan muncul juga di poster-poster, yaitu Al Baqarah 183.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلصِّيَامُ

Bahkan artinya juga hafal kan? “Hai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu untuk berpuasa…” Nah sayangnya, kebanyakan kita hanya fokus dengan kata “diwajibkan” nya saja. “Kenapa kamu puasa Ramadhan?” “Karena wajib“. Kita lupa tujuannya, yang berada diakhir ayatnya

 لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Ya tujuannya agar kita bertakwa. Jika ada pertanyaan “Kenapa kamu puasa Ramadhan?“, jarang yang menjawab: “Agar kita semakin bertakwa“.

Kenapa fokus kita terhadap ayat ini begitu penting? sebab ini akan mempengaruhi kita setelah berpuasa Ramadhan nantinya. Saat pikiran kita hanya sebatas puasa “Ramadhan itu wajib“, maka pikiran kita akan mengatakan bahwa kita telah berhasil pada Ramadhan kali ini, sebab kewajiban itu berhasil kita gugurkan. Akan beda cerita jika kita fokus pada “Ramadhan itu wajib agar kita bertakwa“. Jadi pikiran kita akan mengatakan puasa Ramadhan kita belum tentu berhasil meski kewajiban itu telah gugur, kita masih butuh bukti outcome nya. Sehingga bagi yang bisa memahami puasa Ramadhan ini hingga tujuannya (bukan hanya sebatas perintah), maka semangat beribadahnya akan terus terpicu meski Ramadhan telah berlalu.

Cara berpikir ini sebenarnya tidak hanya untuk puasa Ramadhan, tapi untuk semua ibadah. “Kenapa kamu sholat lima waktu?” “Karena wajib“. Benar memang, tapi coba perluas lagi cara berpikir kita. “Kenapa kamu sholat lima waktu?” “Agar mengingat-Nya serta mencegah kita dari perbuatan keji dan munkar“. Apa bedanya? Kalau yang pertama, nanti berpikirnya, yang penting sudah sholat, yaudah selesai~ makanya jangan heran kalau masih banyak dari kita yang STMJ (shalat terus maksiat jalan), na’udzubillah. Sedangkan kalau dengan cara berpikir yang kedua, maka saat sholat, kita akan lebih fokus untuk mengingat-Nya, pikiran ga melayang kemana-mana, karena memang paham tujuannya, dan setelah selesai sholat jika ketemu godaan untuk maksiat, nanti kita akan berpikir “baru sholat nih padahal, kalau maksiat apa arti sholat kita tadi?“. Tumbuh pikiran-pikiran yang membantu kita mencegah maksiat.

#2 Hutang puasa Ramadhan itu tanda Allah sayang pada kita, mari dilunasi 🙂

Balik ke Ramadhan.. selain ayat Al Baqarah 183 tadi, masih ada beberapa ayat selanjutnya, yang itu masih membahas terkait Ramadhan.

Tahu kenapa kenapa awal ayat selanjutnya yaitu  أَيَّامًۭا مَّعْدُودَٰتٍۢ  yang berarti beberapa hari tertentu yang terhitung? padahal kan satu bulan penuh? Sebab meski satu bulan, rasanya itu tidak akan sampai sebulan, kita akan merasa beberapa hari saja menjalaninya, terhitung. Merasakan juga? 

Coba perhatikan kalimat berikutnya

 فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍۢ فَعِدَّةٌۭ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۚ وَعَلَى ٱلَّذِينَ يُطِيقُونَهُۥ فِدْيَةٌۭ طَعَامُ مِسْكِينٍۢ

dengan kalimat yang hampir sama, diulang lagi di ayat selanjutnya

 وَمَن كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍۢ فَعِدَّةٌۭ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

ayat-ayat itu menandakan Allah itu supeer baik. Meskipun rasanya sebentar, tapi Allah ingin kita semua bisa ikut mendapatkan keutamaan Ramadhan. Ingat ada sebuah hadits qudsi “Setiap amalan manusia adalah untuknya kecuali puasa. Amalan puasa adalah untuk-Ku”, mengapa sampai seistimewa itu amalan puasa? sebab orang berpuasa itu intinya berusaha menahan hawa nafsu, yang sejatinya itu bukanlah untuk dirinya, melainkan karena-Nya, kan sebenarnya kalau mau makan, ya makan aja, mau minum, ya minum aja, mau berhubungan badan dengan suami/istri, ya berhubungan aja. Tak ada dampak substansial jika kita melakukan atau tidak melakukannya. Sebab sekali lagi, itu memang usaha menahan hawa nafsu murni karena-Nya. Misal jikalau memang ada dampaknya secara fisik atau sosial (seperti jadi lebih sehat, jadi berkurang berat badannya, pola makannya jadi teratur, jadi bisa memahami keadaan sosial dan sekitarnya, dan sebagainya), itu bonus saja, bukan substansi.

Maka dari itu agar semua tetap mendapatkan keutamaan puasa Ramadhan, Allah memberikan kemudahan-kemudahan, keringanan-keringanan bagi yang memiliki halangan dalam menunaikannya (misal lagi safar, sakit, atau karena hal lainnya). Jadi kadang ada sebagian orang yang kesal karena kebaikan ini “ih masih ada hutang puasa Ramadhan nih“. Jangan gitu lagi ya, sebab diberikan hutang itu tanda Allah sayang sama kita ?

#3 Manfaatkan insentif yang diberikan Allah kepada kita setelah Ramadhan 🙂

Ayat-ayat kemudahan diatas tadi juga kembali ditegaskan di kalimat berikutnya

 يُرِيدُ ٱللَّهُ بِكُمُ ٱلْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ ٱلْعُسْرَ

…Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesulitan bagimu…

Saking baiknya Allah memberikan kemudahan, setelah Ramadhan pun Allah memberikan bantuan kepada kita, terutama bagi kita yang Ramadhannya masih proses tanam amal-amal ibadah. Apa bantuannya? Allah memberikan kita insentif selama 6 hari di bulan Syawal berupa puasa sunnah, yang itu apabila kita tunaikan, keutamaannya tak kalah dahsyatnya, sama seperti puasa Ramadhan dilipatkan 10 kali lipat! jadi seperti setahun! ? (1 bulan Ramadhan x 10)+(6 hari Syawal x 10)= 10 bulan + 60 hari = 12 bulan = 1 tahun.

Cocok untuk menopang semangat Ramadhan yang lalu agar tidak kendor! ??

#4 Terus pelajari Al Quran 🙂

شَهْرُ رَمَضَانَ ٱلَّذِىٓ أُنزِلَ فِيهِ ٱلْقُرْءَانُ هُدًۭى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَٰتٍۢ مِّنَ ٱلْهُدَىٰ وَٱلْفُرْقَانِ

Wajar jika kita mengisi hidup ini dengan penuh kecemasan dan bingung. Sebab petunjuk, penjelas, dan pembeda antara yang hak dan bathil itu.. jarang kita baca ?

Jika saat Ramadhan kemarin, disaat orang-orang berlomba membaca, menghafal, dan mempelajari Al Quran, tetapi kita justru tidak semangat atau tidak ada rasa tertarik untuk membacanya atau bahkan menyentuh mushafnya pun jarang atau tidak pernah sama sekali. Maka ada masalah dalam diri kita. Perlu introspeksi diri. Bisa jadi tersekat karena banyaknya maksiat.

Jika saat Ramadhan kemarin, kita sudah banyak membaca Al Quran, rajin, sudah berhasil menghafal beberapa surat, tetapi saat seusai Ramadhan kita kembali tidak membaca Al Quran, malas, tidak muraja’ah lagi ayat-ayat yang dihafal. Maka waspadalah, sebab itu tanda-tanda akan munculnya masalah dalam diri kita, aktivitas maksiat akan menghampiri dan menggoda kita.

Masih ada waktu untuk kembali, terus memperbaiki diri, pertahankan semangat baca Quran saat Ramadhan tersebut agar bisa ditularkan ke sebelas bulan lainnya.

#5 Buktikan bahwa kita termasuk hamba-Nya yang selalu bersyukur 🙂

Di akhir ayat Al Baqarah 185, kita akan menemukan kembali sebuah tujuan, tujuan atas banyaknnya kemudahan yang Allah berikan kepada kita. Apa itu?

وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

yang berarti “agar kamu bersyukur“. Bersyukur udah diberi petunjuk, bersyukur dipertemukan Ramadhan, bersyukur diberi kemudahan. Tidak semua orang bisa menyaksikan Ramadhan kemarin. H-7 Ramadhan ada yang meninggal, H-1 Ramadhan yang meninggal, sore sebelum menjelang malam 1 Ramadhan ada juga yang meninggal, dan itu ga cuma satu dua orang. Lalu bagaimana cara bersyukurnya?

 وَلِتُكْمِلُوا۟ ٱلْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا۟ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَىٰكُمْ

yaitu dengan menunaikan semua kewajiban puasa Ramadhan dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang telah diberikan kepada kita.

#6 Terus berdo’a agar amalan kita diterima dan minta diistiqomahkan 🙂

Tak ada yang menjamin amalan yang telah kita tunaikan selama bulan Ramadhan kemarin diterima. Maka dari itu kita harus terus senantiasa berdoa.

 رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّآ ۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْعَلِيمُ

Ya Allah terimalah (amal) dari kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui

Berdoa juga agar kita terus diistiqomahkan dalam beramal, jangan sampai berhenti di Ramadhan.

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنتَ ٱلْوَهَّابُ

Ya Tuhan kami, janganlah Engkau condongkan hati kami kepada kesesatan setelah Engkau berikan petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi.

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ

Wahai Dzat yang Maha membolak-balikkan hati, tetapkanlah hati kami di atas agamaMu

اللَّهُمَّ أَعِنِّى عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

Ya Allah, bantulah aku dalam mengingatMu, bersyukur kepadaMu dan memperbaiki ibadahku

Mengapa minta untuk terus diistiqomahkan? Seperti yang telah saya katakan juga sebelumnya. Hati ini perlu ditata (Menata Hati), hati kita itu mudah galau, takut, dan sedih. Saat futur sedikit, jangan dibiarkan begitu saja, sebab itu akan menjadi awal titik di mana iman kita akan turun (yanqus), kemaksiatan kita akan terus meningkat, dan berakhir pada peningkatan kegalauan dan timbulnya rasa putus asa.

Tentu saja seperti yang pernah dibahas di postingan sebelumnya juga, doa itu tidak ada yang sia-sia dan pasti dikabulkan, selama syarat dan ketentuan tetap dilaksanakan: 1) jika dan hanya jika kita yakin doa kita akan dikabulkan; 2) berdoa bukan dengan tujuan melakukan dosa; 3) kondisi kita selalu dalam keadaan beriman dan menaati perintah-Nya. Begitulah yang ditekankan juga pada ayat selanjutnya:

أُجِيبُ دَعْوَةَ ٱلدَّاعِ إِذَا دَعَانِ

Aku kabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila dia berdoa kepada-Ku

apa syaratnya?

 فَلْيَسْتَجِيبُوا۟ لِى وَلْيُؤْمِنُوا۟ بِى

Hendaklah mereka itu memenuhi perintah-Ku dan beriman kepada-Ku

#7 Tidak ada kata terlambat untuk bertaubat, mari bertaubat 🙂

Tentu saja tidak sedikit dari kita yang menjalankan Ramadhan kemarin dengan tidak maksimal, bahkan maksiat pun masih jalan. Maka untuk memperbaiki itu, kita harus bertaubat. Tinggal bagaimana kitanya, apakah kita sombong atau menyadari bahwa kita ini lemah. Begitulah disinggung oleh Allah di ayat selanjutnya, Allah sudah menekankan bahwa kita itu memang lemah. Tapi lagi-lagi, Allah yang supeeer baik, masih memberikan maaf kepada kita dan menerima tobat kita. Lalu masih enggan kah kita bertaubat? Bahkan setelah menyadari kemaksiatan yang telah kita lakukan di bulan mulia dan saat setan-setan dibelenggu~ Hina sekali bukan kita ini jika tidak bertaubat? ☹

عَلِمَ ٱللَّهُ أَنَّكُمْ كُنتُمْ تَخْتَانُونَ أَنفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنكُمْ

…Allah mengetahui bahwa kamu tidak dapat menahan dirimu sendiri, tetapi Dia menerima tobatmu dan memaafkan kamu…

Sebenarnya masih banyak yang bisa dibahas, ayat-ayat selanjutnya juga masih ada hubungannya. Memang temanya sudah berbeda, tapi pasti terdapat konektivitasnya antar ayat, bahkan antar surat. Inilah yang disebut dengan munasabatul ayat, mentadabburi ayat al Quran dengan mencari hubungan antar ayat dan antar surat. Mengenai munasabatul ayat ini InsyaAllah akan dibahas lebih lanjut di postingan lainnya.

Untuk kali ini cukup sekian, semoga bermanfaat. Semoga kita termasuk orang yang benar-benar kembali suci dan mendapatkan kemenangan. ?

Taqabalallahu minna wa minkum
Mohon maaf lahir dan batin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *