Tadabbur

Pesan Implisit dari Allah Atas Disyariatkannya Qurban: Jadilah Orang “Baik”

Bulan Dzulhijjah… Merupakan salah satu bulan haram ✨ (suci, bulan yang dimuliakan). Karena begitu mulianya, larangan bermaksiat lebih ditekankan pada bulan ini, bahkan jika kondisi lagi perang pun sebaiknya dilakukan gencatan senjata dulu (untuk menjaga kesuciannya, tak ada pembunuhan).

Bulan Dzulhijjah ini bulan istimewa, dari awal bulan saja kita sudah disambut dan disuguhi dengan 10 hari (siang) terbaik sepanjang tahun. Mengapa menjadi yang terbaik? Sebab pada saat itu, segala amal saleh yang kita lakukan akan menjadi amal saleh yang paling dicintai Allah. Itulah mengapa banyak orang yang berpuasa sunnah pada hari ke 1 sampai ke 9 nya dengan harapan sepanjang harinya dihitung melakukan amal saleh, sebab hanya ibadah puasa yang bisa dilakukan seharian penuh dan bisa disambi dengan melakukan aktivitas sehari-hari lainnya. Catatan: untuk tanggal 10 itu idul adha, jadi dilarang berpuasa. Tentu saja, tidak terbatas dengan puasa, bisa diisi dengan kegiatan amal saleh lainnya, semisal tilawah, shodaqoh, dan sebagainya.

Supernya lagi, dari 9 hari puasa yang dilakukan itu, terdapat satu hari yaitu pada tanggal 9 nya, puasa yang dapat menghapus dosa-dosa selama 2 tahun (1 tahun belakang, 1 tahun kedepan)! mantab kan? ? dengan catatan: itu dosa-dosa kecil, jika pun terdapat dosa besar, harapannya bisa meringankannya, ataupun jika tidak memiliki dosa, maka puasa ini bisa membuat seseorang meningkatkan derajatnya disisi Allah swt.

Sejak tanggal 9 hingga 13, kita juga diberikan kesempatan untuk melakukan sunnah-sunnah lainnya, diantaranya sunnah-sunnah sebelum shalat idul adha, sunnah memperbanyak takbir muqayyad terutama setiap selesai shalat baik yang shalat sunnah maupun wajibApa itu? takbir yang hanya dibaca pada waktu khusus, berakhir pada waktu Ashar 13 Dzulhijjah. Kalau masih ada yang bingung takbir mana yang dimaksud, itu takbir pada hari raya.

Selanjutnya ada juga perintah untuk berqurban, mulai dari setelah shalat ied adha hingga tanggal 13) yang hukumnya itu sunnah muakkad bagi orang yang diberikan kelapangan rezeki (bahkan dalam mazhab Hanafi hukumnya wajib lho, hayo yang lagi banyak rezeki tapi ngga berqurban, buat yang belum bisa berqurban, semoga tahun depan bisa, amiin).

Catatan: meski banyak sunnah-sunnah nya, tapi untuk puasa tidak ada sunnahnya lho ya hehe (pada tanggal 10-13 nya) hukumnya haram berpuasa.

Pesan Implisit dari Allah atas disyariatkannya Qurban

Berkaitan dengan qurban, dalam postingan kali ini, saya ingin coba menyampaikan “kode-kode” dari disyariatkan berqurban, sebuah pesan implisit. Mungkin untuk sejarah disyariatkannya, teman-teman sudah tau lah ya, kisah dari bapaknya para nabi yang akan menyembelih anaknya, dan umumnya disampaikan juga pada khutbah ied adha. Mungkin teman-teman juga sudah tahu apa hikmah-hikmah dari dilakukannya qurban, semisal untuk syiar, membuktikan pada masyarakat bahwa kaum Muslim itu kompak dan akur, ukhuwahnya kuat, tidak seperti yang umum dilihat sekarang, yang terus disorot perpecahannya, perbedaan-perbedaanya, dan sebagainya. Hikmah selanjutnya, peduli dengan sosial sekitar, senang berbagi dengan sesama terutama pada yatim dan miskin. Kemudian masih banyak hikmah lainnya.

Tapi tahu ngga? ada hal yang simpel tapi dalem, sebuah pesan tersirat dari disyariatkannya qurban ini, dan sayangnya sering terlewat gitu aja. Kok bisa dilewatin gitu aja? Ya soalnya ini berupa “kode-kode”.. Yups.. Allah “ngode” ke kita, cuma ya biasaa~ kalau kita kan seringnya peka terhadap “kode-kode” dari manusia, giliran ada kode dari Allah ga peka~ Apa kodenya? Jadilah orang “baik”.. Kodenya di mana? Kodenya itu di Al Quran..C temen-temen cek di QS. Ash Shaffat 99-113.

Ya itu ayat-ayat tentang Qurban (selain Al Hajj 34 dan Al Kautsar 2). Yuk kita cek ayatnya:

Pertama, perhatikan pada ayat 105, ada kalimat إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجْزِى ٱلْمُحْسِنِينَ yang artinya “Sungguh, demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik“. Siapa yang dimaksud orang-orang baik? 

  1. [Ayat 99] Orang-orang yang jika dalam masalah, galau, atau keinginannya belum terwujud, maka mereka selalu meminta petunjuk kepada Allah (وَقَالَ إِنِّى ذَاهِبٌ إِلَىٰ رَبِّى سَيَهْدِينِ).
  2. [Ayat 100] Orang-orang yang senantiasa peduli dengan generasi penerusnya dimasa depan, terutama peduli terhadap keshalehannya (mencakup akidahnya, ketaatannya dalam beribadah kepada Rabbnya, serta kemuliaan akhlaknya). Kepedulian tersebut harus dibuktikan dimulai sejak sebelum memiliki anak dengan berdoa agar dikaruniai anak yang shalih (رَبِّ هَبْ لِى مِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ).
  3. [Ayat 102] Orang tua dan anak yang saling membangun kepercayaan dalam hal kebaikan (يَٰبُنَىَّ إِنِّىٓ أَرَىٰ فِى ٱلْمَنَامِ أَنِّىٓ أَذْبَحُكَ فَٱنظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ).
  4. [Ayat 102] Orang-orang yang taat melakukan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya (قَالَ يَٰٓأَبَتِ ٱفْعَلْ مَا تُؤْمَرُ), serta sabar dalam menjalankannya (سَتَجِدُنِىٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰبِرِينَ).
  5. [Ayat 103] Orang-orang yang berserah diri kepada Allah atas apapun yang telah disyariatkan-Nya (فَلَمَّآ أَسْلَمَا وَتَلَّهُۥ لِلْجَبِينِ).

Kedua, perhatikan pada ayat 110, redaksinya hampir sama dengan ayat 105 :  كَذَٰلِكَ نَجْزِى ٱلْمُحْسِنِينَ yang artinya “Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik“. Kata “Muhsiniin” yang kedua ini menjelaskan apa yang akan dialami dan didapatkan oleh orang-orang “baik”.

  1. [Ayat 106] Orang “baik” akan selalu mendapat ujian (إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ ٱلْبَلَٰٓؤُا ٱلْمُبِينُ). Jadi saat kita mendapatkan ujian, jangan sampai mengeluarkan kata-kata buruk, apalagi sampai mencela Allah. Coba dalam pikiran kita, yang tertanam adalah sebaliknya, karena Allah melihat kita mampu untuk menjadi orang “baik” maka Allah berikan ujian. So, Ujian yang diberikan adalah tanda perhatian Allah kepada kita. Cie yang diperhatiin.. Maka ujian pun akan menjadi mudah untuk dilewati, jika kita selalu berhunsnudzon kepada Allah.
  2. [Ayat 108] Orang “baik” akan memberikan manfaat yang terus mengalir bagi generasi penerusnya di masa depan (وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِى ٱلْءَاخِرِينَ). Manfaat itu bisa berbagai dalam bentuk, bahkan hingga orang “baik” meninggal masih tetap mengalir manfaatnya.
  3. [Ayat 109] Orang “baik” akan selamat dan sejahtera baik saat di dunia maupun di akhirat. Catatan: selamat bukan selalu tentang fisik, tapi juga selamat akidahnya, sejahtera juga bukan selalu tentang yang bersifat materiil tapi tentang keberkahan dan kebahagiaan dalam menempuh jalan-Nya (سَلَٰمٌ عَلَىٰٓ إِبْرَٰهِيمَ).
  4. [Ayat 111] Orang “baik” itu termasuk dalam golongan orang-orang yang tidak diragukan lagi keimanannya, sebab keyakinan dalam hati, ucapan dari lisan, dan pengamalan iman seseorang yang”baik” itu sinkron (إِنَّهُۥ مِنْ عِبَادِنَا ٱلْمُؤْمِنِينَ).
  5. [Ayat 112] Orang “baik” akan mendapatkan kabar gembira atau suatu manfaat yang juga tidak kalah besarnya, tentu setelah berhasil melewati fase-fase ujiannya dengan kesabaran dan ketaatan (وَبَشَّرْنَٰهُ بِإِسْحَٰقَ نَبِيًّا مِّنَ ٱلصَّٰلِحِينَ)

Bagaimana? Apakah kita sudah termasuk orang-orang yang “baik”? Ya Semoga setelah melaksanakan kegiatan Qurban tahun ini, kita termasuk orang yang “baik” ya. Mari bergerak bersama! Jangan cuma nyate-nyate aja..

Inget pola makannya juga dijaga #eh ?

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *