Contemplation,  Stories

Mari Membuat Hal-Hal yang Mubah Agar Menghasilkan Maslahat

Apapun yang telah Allah wajibkan atas kita, maka dapat dipastikan hal-hal yang diwajibkan tersebut menghasilkan banyak maslahat. Bentuknya bisa kemaslahatan untuk diri sendiri dan atau untuk orang banyak, misalnya shalat, zakat, puasa, haji, berjamaah di masjid bagi laki-laki, menggunakan jilbab bagi perempuan, dsb.

Begitu juga sebaliknya, apapun yang telah Allah haramkan atas kita, maka dapat dipastikan pula hal-hal yang diharamkan tersebut menghasilkan banyak mudlarat. Bentuknya bisa kemudlaratan kepada diri sendiri dan atau orang banyak, misalnya riba, judi, makan daging babi, minum darah, minum khamr, dsb.

Silakan dicek saja.

Bagaimana dengan hal-hal yang tidak diwajibkan dan tidak juga diharamkan?

Segala sesuatu, baik itu sebuah kegiatan, alat, sarana, tempat, benda, dsb, jika tidak ada perintah wajib dari Allah untuk dilaksanakan/ digunakan/ dipakai/ dihabiskan, dsb maka ia (sesuatu tersebut) menjadi sesuatu yang mubah.

Sesuatu yang mubah tersebut, bisa jadi menghasilkan maslahat, bisa juga mudlarat, tergantung bagaimana kita melakukannya/ menggunakannya/ memakainya/ menghabiskannya. Saat ia menghasilkan maslahat maka ia bisa menjadi sunnah bahkan dalam titik ekstremnya bisa jadi ia wajib, jika maslahat yang dihasilkan tersebut memang urgent untuk umat. Saat ia menghasilkan mudlarat maka ia bisa menjadi makruh bahkan dalam titik ekstremnya bisa jadi ia haram, jika mudlarat yang dihasilkan tersebut benar-benar merusak tatanan umat.

Sebagai contoh, ada seseorang memberikan kita smartphone. Oleh Allah, kita tidak diwajibkan atau pun diharamkan menggunakan smartphone tersebut. Maka smartphone kita tersebut bisa menghasilkan maslahat atau mudlarat. Jika kita menggunakannya untuk hal-hal yang tidak baik, semisal mendengarkan musik-musik yang melalaikan kita, melakukan transaksi-transaksi ilegal, melihat media-media yang tak pantas dikonsumsi, maka ia menjadi mudlarat, bahkan bisa menjadi hal yang haram untuk kita jika kita terus menggunakannya untuk hal-hal tersebut. Jika kita menggunakannya untuk belajar, menuntut ilmu, tilawah, menciptakan karya-karya digital untuk dakwah, maka smartphone tersebut menjadi maslahat untuk kita, bahkan ia bisa menjadi salah satu sarana kita beribadah kepada-Nya.

Itu baru contoh smartphone, masih begitu banyak hal mubah yang bisa kita jadikan maslahat, sepeda, motor, mobil, bangunan, rumah, jembatan, main bola, main basket, main skateboard, konvoi, car free day, pentas seni, reuni, seminar, diskusi, dsb.

Dalam lingkup yang lebih luas

Tak hanya tergantung dengan apa yang kita lakukan, dalam cakupan luas semisal negara atau pun dunia, maka hal yang mubah tersebut bisa menjadi maslahat atau mudlarat tergantung dengan apa yang masyarakat lakukan (secara massal/ kebiasaan).

Dalam kasus yang luas, jika hal tersebut menghasilkan mudlarat, maka untuk memperbaikinya hanya dua cara:

  1. Menghilangkan dengan cara menghapus hal tersebut secara masif
  2. Menghilangkan dengan cara memperbaiki isinya, berusaha mewarnai dengan kebaikan-kebaikan, dan dengan tujuan akhir berusaha menjadikan kebaikan tersebut mendominasi hal tersebut.

Apa contohnya? Misal bank, pada awalnya bank digunakan secara masif untuk praktik riba, hingga akhirnya mengakar. Maka solusi antara satu dan dua, yang paling memungkinkan adalah yang kedua, sehingga muncul alternatif-alternatif seperti bank syariah. Contoh lagi, kelompok-kelompok rider motor yang selama ini diidentikkan dengan ‘preman’ ‘ga baik’ dsb, maka dimunculkanlah rider penggerak subuh berjamaah, rider ngaji. Contoh lagi, bioskop, yang tak bisa kita pungkiri kekuatannya dalam mempengaruhi pikiran, ideologi, cara berpikir, maka sangat disayangkan jika kekuatan tersebut justru digunakan untuk menyebarkan pemikiran atau ideologi yang salah, sehinhgs sekarang mulai bermunculan para kreator, film maker, animator, berusaha mengisinya dengan mempromosikan ide-ide, cara berpikir, ideologi yang benar. Mengapa ketiga contoh tersebut tidak menggunakan solusi pertama (menghilangkan dengan meniadakannya)? Sebab probabilitas nya sangat kecil untuk kita melakukan itu, kecuali jika kita memiliki kekuasaan dan otorisasi untuk menghapusnya (melalui regulasi).

Terus apa contohnya yang solusi pertama menjadi yang terbaik? Misal kebiasaan sebagian anak muda merayakan suatu hari tertentu, namun diisi dengan hal yang salah, yang bertentangan dengan syariat. Sehingga solusi pertama akan cocok, sebab tak membutuhkan suatu kekuasaan untuk menghilangkannya. Bisa dengan cara melakukan campaign-campaign di media sosial tentang himbauan untuk tidak memperingatinya, membawakan dalil-dalil mengenai keharamannya, dengan harapan suatu saat hari yang diperingati tersebut secara masif tidak dirayakan kembali.

Lalu bagaimana jika sesuatu yang mubah itu menghasilkan maslahat yang luas, tentu kalau ini harus dipertahankan.

Acuhnya orang baik (berlaku khusus untuk kasus mubah yang mudlaratnya diatasi dengan solusi kedua)

Rusaknya sebuah tatanan masyarakat, sebuah negeri, atau bahkan dunia, bukan hanya karena begitu aktifnya orang jahat, namun juga karena diamnya orang-orang baik.

Banyak hal mubah dilakukan oleh orang jahat, kemudian menghasilkan mudlarat, hingga akhirnya melekat dalam kegiatan bermasyarakat. Saat sudah melekat, orang baik membencinya. Orang-orang baik lalu membiarkan, padahal solusi untuk menghilangkannya adalah dengan turut mewarnainya, mengubah isinya dengan konten-konten positif. Jika orang baik tetap diam atau bahkan anti dalam hal yang mubah tersebut, maka dapat dipastikan hal-hal yang mubah tersebut akan menjadi pintu subur untuk menyebarkan kejahatan-kejahatan.

Beda masa waktu, beda lokasi, maka bisa beda hukumnya.

Apa-apa yang mubah saat ini, tidak berarti hukumnya kekal mubah hingga hari akhir, bisa saja pada saat masa tertentu ia menjadi haram atau sebaliknya.

Apa-apa yang saat ini mubah dan menghasilkan manfaat, tidak berarti ia akan terus menghasilkan manfaat hingga akhir, bisa saja pada saat masa tertentu ia justru berubah menghasilkan sebaliknya, sebab hal ini dlbersifat dinamis.

Apa-apa yang saat ini mubah namun menghasilkan mudlarat di daerah kita, tidak berarti ia juga ‘pasti’ menghasilkan mudlarat di daerah lain.

Semua harus ditinjau terlebih dahulu dari segi fikihnya. Kemudian untuk hukum-hukum yang pernah diputuskan sebelumnya tentu harus dijadikan salah satu referensi jg dalam menentukan apakah untuk saat ini masih diwajibkan/ diharamkan.

Akhir kata..

إن أريد إلا الإصلاح ماستطعت وما توفيقي إلا بالله عليه توكلت وإليه أنيب

Ditulis di KA Malam Serayu, spesial ditujukan untuk teman-teman saya yang saat ini sedang menekuni dakwah dengan memanfaatkan hal-hal mubah tersebut: pemain bola, pemain skateboard, film maker, animator, video editor, rider, dsb., semoga istiqomah memanfaatkan media-media tersebut tidak lain tujuan utamanya adalah untuk berdakwah, lillah, li i’lai kalimatillah.

11 November 2018

Wassalam..
Al faqir ilaa rabbihi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *