Contemplation,  Stories

Rebo Wekasan: Sebuah Miskomunikasi yang Menjadi Tradisi

Sebelum masuk penjelasan, sebenarnya saya cenderung ingin meninggalkan pembahasan tentang masalah-masalah yang “annually” seperti ini, yaitu masalah yang selalu ditanyakan setiap tahun, terus terulang. Salah satunya tentang Rebo Wekasan, contoh lainnya Tahun Baru, Valentine, Maulid, Natal. Bukan berarti saya tidak peduli untuk meluruskan hal-hal semacam itu, tapi saya merasa, bahwa untuk saat ini mencari informasi-informasi yang berusaha meluruskan hal-hal tersebut sudah mudah ditemukan di era teknologi dan informasi yang berkembang cepat. Betul kan? Hehe, dari pribadi saya sendiri memang sedang memfokuskan diri untuk menulis hal-hal yang berkaitan dengan Al Quran dan Adab.

Jadi mohon dimaklumi kalau tulisannya telat hehe, ya karena memang sebelumnya belum ada niatan untuk menulis hal ini. Yaa, belum ada motif lah menulis tentang hal ini, kurang lebih seperti itu.

Tapi kenapa saya sekarang mau menuliskan tentang hal ini. Beberapa hari yang lalu, saya berharap tidak ada yang menanyakan tentang hal ini, eh ternyata ada beberapa pertanyaan tentang Rebo Wekasan juga yang masuk. Saya coba iseng membuat polling di IG story, apakah perihal Rebo Wekasan perlu dibahas? Dan ternyata memang masih lebih banyak yang jawab perlu. Dari hasil polling tersebut, saya beusaha melakukan sedikit analisis, kurang lebih analisisnya seperti ini kenapa kok dia jawab perlu, kenapa kok dia jawab tidak perlu, dengan modal saya yang sedikit banyak tahu sebagian latar belakang teman-teman saya di IG.

Dari yang jawab perlu: ada dua tipe orang, 1) karena memang belum tahu, apa sih rebo wekasan itu; 2) dia sudah tahu apa itu rebo wekasan, hanya saja masih ragu, apakah ada hal seperti itu?, keraguan itu secara umum saya bisa memakluminya, sebab ia bisa jadi tinggal di lingkungan yang memiliki kebiasaan melakukan tradisi rebo wekasan, dan pada akhirnya berujung pada kebingungan, bagaimana menyikapinya?.

Dari yang jawab tidak perlu dibahas: ada tiga tipe orang, 1) karena memang sudah tahu apa rebo wekasan itu; 2) dia memang tidak tinggal di lingkungan yang memiliki tradisi seperti itu; ya jadi buat apa kan dibahas wqwq; 3) dia sama seperti saya sudah cukup lelah menjawab pertanyaan-pertanyaan “annually” itu, hehe.

Jadi, tujuan utama saya menulis ini adalah berusaha mengakomodasi dua tipe orang yang menjawab perlu. Kemudian harapannya, tulisan ini bisa menjadi template jawaban mudah saya saat muncul pertanyaan-pertanyaan serupa ke depannya, kan jadi tinggal kasih link URL saja hehe. Terakhir, saya merasa perlu menulis hal ini, sebab saya akan mencoba menarik dari sudut pandang yang berbeda dalam pembahasannya. Umumnya yang dibahas adalah lebih ke sisi fikihnya, sunnah atau bid’ah. Nah, kali ini saya mencoba mengambil perspektif historis juga yang kemudian saya tambahkan kaidah-kaidah umum fikih berlandaskan hadits, sehingga tanpa saya menyebutkan apa hukumnya, teman-teman insyaAllah sudah bisa menganalisisnya sendiri.

Baik, sekarang kita masuk pembahasan ya..

Singkatnya Rebo Wekasan (atau biasa disebut juga pungkasan) adalah istilah yang digunakan oleh masyarakat muslim tradisional di sebagian daerah Jawa untuk menunjuk pada hari Rabu terakhir pada bulan Shafar. Sebagian masyarakat tersebut memiliki anggapan bahwa pada hari Rabu terakhir Shafar adalah waktu di mana banyak musibah atau malapetaka yang diturunkan, sehingga berbagai ritual ibadah dilakukan, bahkan sampai ada yang melaksanakan suatu sholat yang dinamakan lidaf’il bala, bermaksud untuk bisa menghindarinya. Sudah bisa menjadi tebakan pertanyaan umum: Apakah ada tuntunannya? Ada amalan khusus seperti itu? Jawabannya adalah tidak ada, baik dalam Al Quran maupun Hadits.

Kalau sudah tahu seperti ini, biasanya nih ya, timbul cekcok di sebagian masyarakat kita. Ini terjadi jika dan hanya jika ada dua orang atau kelompok, di mana yang satu paham kalau itu tidak ada tuntunannya, tapi tidak tahu cara menyampaikannya bagaimana, tahu banyak tentang fikih ibadah tapi fikih dakwahnya ketinggalan. Kemudian pihak yang satunya lagi, yang melakukan tradisi rebo wekasan, rasa-rasanya itu punya keinginan “harus dilaksanakan nih” sedangkan di saat yang sama mereka tidak mempunyai keinginan untuk mencari tahu asal-usul rebo wekasan ini. Perlu dicatat, bahwa yang namanya tradisi, pasti ada permulaannya.

Mari kita bedah satu per satu..

  1. Apa benar hari Rabu terakhir bulan Shafar adalah hari diturunkannya banyak malapetaka atau juga disebut hari yang membawa banyak sial?

Dengan tegas saya katakan, (sebab ini salah satu prinsip utama yang harus dipegang oleh setiap orang mukmin dalam berakidah) dilarang keras meyakini bahwa ada suatu waktu yang sial (laa thiyarah, HR. Bukhari No. 5757 versi Fathul Bari): semisal hari sial, bulan sial, tahun sial, dan lain sebagainya, intinya kalau ada seseorang memiliki keyakinan bahwa ada suatu waktu yang melekat padanya suatu kesialan, maka dia jatuh pada kesyirikan.

Sehingga, menjadi satu hal yang pasti bahwasanya tidak ada kesialan yang melekat pada hari Rabu terakhir bulan Shafar.

  1. Sebenarnya apakah ada suatu waktu atau suatu hari di mana hari tersebut menjadi saat diturunkannya banyak malapetaka?

Untuk pertanyaan ini, jawabannya adalah ada. Jawaban ini terdapat pada Shahih Muslim (No. 2014 versi Syarh Shahih Muslim). Namun hadits itu tidak menerangkan kapan tepatnya. Sehingga dari hadits ini kita bisa menyimpulkan bahwa Rasulullah hanya ingin memberitahukan bahwa di tiap tahunnya, pasti ada satu waktu diturunkannya banyak malapetaka, wabah, penyakit, bencana, tanpa menjelaskan kapan waktu tepatnya, dan tidak juga dijelaskan apakah turunnya di tanggal atau hari atau bulan yang sama pada tiap tahunnya? ataukah suatu waktu itu terus berganti pada tiap tahunnya? Tentu ini ada tujuannya, sebab jika dijelaskan spesifik kapannya, maka yang terjadi adalah pertentangan dengan prinsip utama tadi. Rasul tidak mungkin akan mengajarkan para sahabatnya untuk meyakini suatu hari menjadi sial.

  1. Terus bagaimana ceritanya, kok pada bisa menyimpulkan pada hari Rabu akhir bulan Shafar?

Tadi mengenai waktu, ini adalah hasil tajribah (pengalaman) dan kasyf (penyingkapan tabir), semacam pengalaman yang dialami atau ilham yang didapatkan oleh orang-orang tertentu, yang shalih lagi arif. Ini bukan mukjizat, tapi tentu saja tidak semua orang mengalaminya. Hal-hal ini murni kiriman/ ilham/ hadiah dari Allah untuk orang-orang tertentu, bukan karena usahanya dia setelah melakukan ritual-ritual tertentu lantas ia mendapatkan ilham tersebut. Tajribah atau kasyf itu suatu hal yang pasif (hanya bisa diterima), bukan suatu hal yang aktif (kita bisa mengejar untuk memperolehnya). Nah, untuk orang-orang shalih yang memang mengalaminya, maka dia diperbolehkan mempercayai apa yang diterimanya selama ia tidak menyandarkan kepada Rasulullah perihal apa yang diilhamkan kepadanya. Misal, suatu ketika ada orang shalih yang merasakan firasat atau mendapatkan ilham bahwa dirinya dan beberapa orang di sekitarnya akan mengalami kejadian yang buruk keesokan harinya. Lantas ia berdoa kepada Allah agar dijauhkan pada hal apa yang sedang dirasakan hatinya atau apa yang sedang tergambar pada pikirannya. Boleh juga dia menceritakan kepada orang-orang yang di sekitarnya tersebut tentang perasaannya, namun urusan percaya atau tidaknya dengan apa yang disampaikan, itu menjadi kebebasan orang-orang di sekitarnya, kemantapan hati masing-masing. Orang shalih tersebut tentu tidak boleh memaksa orang lain untuk meyakini hal tersebut, dan dilarang pula menyandarkan hal tersebut kepada Rasulullah.

Bagi yang mempercayainya, boleh dia mengikuti saran orang shalih tadi, lalu ikut berdoa. Tapi perlu diingat dan ditekankan bagi yang ingin mempercayainya, tentu saja membutuhkan syarat yang begitu ketat, di antaranya orang itu diyakini secara “mutawatir” atau diakui oleh orang banyak bahwa ia memang benar-benar shalih, dan track recordnya dalam segala hal luar biasa, lurus dalam akidah, benar dalam amaliah, maupun baik dalam akhlaknya. Sehingga, jika ada seseorang yang cerita bahwa dirinya mendapatkan ilham namun shalatnya masih bolong-bolong, masih percaya takhayyul, masih buang sampah sembarangan, boros menggunakan air, hubungan dengan tetangganya sangat buruk, dan sebagainya, maka sudah bisa dipastikan ilham yang ia ceritakan adalah kebohongan belaka, atau malah datang dari setan.

Orang yang di sekitarnya tadi juga boleh untuk tidak mempercayainya meskipun ia seshalih apa pun, asalkan jangan sampai menghina orang shalih tadi. Sebab jika menghina, akan menjadi konsekuensi tersendiri apabila ternyata apa yang diilhamkan tadi merupakan benar-benar gambaran yang diberikan oleh Allah.

Kita masih belum bahas hari Rabunya lho ya hehe..

Kok bisa Rabu akhir bulan Shafar? Ternyata beberapa ulama atau orang shalih beberapa abad yang lalu mengalami tajribah dan kasyf, dan pasnya itu tidak terjadi hanya pada satu orang, dan mendapatkan gambaran yang sama yaitu banyaknya malapetaka yang turun pada hari Rabu akhir bulan Shafar (pada saat itu). Dari sini kita tidak boleh menyimpulkan, karena banyak, lalu langsung main di ijma’ kan: maka hari Rabu akhir bulan Shafar adalah hari penuh malapetaka.

Nah, orang-orang shalih ini tahu apa yang diilhamkan kepada dirinya adalah kode-kode dari Allah untuk dirinya saja bukan untuk khalayak umum, sebab pengalamannya pun berbeda. Dan jika pun ia mengajak orang lain atas apa yang diilhamkan kepadanya, maka tentu saja orang-orang yang diajak pun terbatas, yang sudah kenal betul, semisal keluarganya atau murid-murid dekatnya. Sama halnya seperti pengalaman lailatul qadr, yang begitu dirahasiakan tapi ternyata ada juga orang-orang shalih yang diam-diam ternyata mendapatkan kode dari Allah tentang lailatul qadr yang terjadi pada tahun tersebut. Coba saja sekali-kali tanya secara privat kepada orang yang shalih “mutawatir” tentang pengalamannya mencari lailatul qadr, qadarullah umumnya ada saja pengalaman luar biasa yang diceritakannya.

Kembali lagi ke awal, lalu tajribah dan kasyf yang dialami orang-orang shalih tersebut direspon oleh mereka pada saat dengan ibadah-ibadah umum yang memang ada tuntunannya, harapannya tidak lain adalah agar terhindar dari kejadian yang digambarkan dari ilham yang diterimanya dan berkorelasi dengan hadits di Shahih Muslim tadi. Berjalanlah lancar biasa, namun pada periode berikutnya atau digenerasi berikutnya, terjadi miskomunikasi. Para guru atau para orang shalih tadi sebenarnya tidak mengajak masyarakat atau kepada muridnya secara meluas, namun ada saat di mana generasi yang mematenkan atau membuat hal tersebut menjadi tradisi. Tentu saja ini salah kaprah, ya karena tanpa hujjah apa pun, bahkan tajribah dan kasyf pun tidak ada. Inilah juga mengapa dari kecil hingga saat ini, saya tak pernah melakukan tradisi ini, ya karena pertama adalah tak ada tuntunannya dari Quran maupun hadits, dan tidak pula saya mengalami tajribah dan kasyf, begitu pun guru-guru saya, tidak ada yang mengalaminya sehingga tak ada pula arahan dari guru saya untuk melakukan hal tersebut.

Misal ya misalnya, tiba-tiba saya mengalami tajribah dan kasyf ini, saya mendapatkan gambaran bahwa semisal hari ahad nanti banyak kejadian buruk, boleh saya meyakininya lalu berdoa kepada Allah agar saya terhindar dari hal-hal tersebut, namun tentu dengan banyak syarat tadi, pertama saya harus bisa memastikan apakah itu benar-benar gambaran dari Allah? bukan dari setan? Caranya bagaimana? Mulailah dari introspeksi diri, apakah segala aktivitas kita sudah sesuai syariat? Sebab Allah tentu tidak sembarangan memberikan ilham-ilham semacam itu. Kalau kita sering bermaksiat, jangan harap bisa dapat hal yang luar biasa itu, sekalinya dapat ilham, yang ada malah bisa jadi dari setan. Dari sini saya bisa ketahui bahwa kemungkinan sangat kecil saya mendapatkan ilham seperti tadi. Lalu yang kedua, jika memang sudah yakin, maka dalam perihal meyakini ilhamnya tersebut, itu tidak untuk khalayak umum, namun untuk keperluan pribadi saja.

Generasi mana yang mulai mentradisikan rebo wekasan ini? Steenbrink, seorang Professor di Utrecht University melakukan studi tentang keislaman di Indonesia, di antara hasil studi nya adalah ia menemukan tradisi Rebo Wekasan ini telah ada sejak awal tahun 1600-an, lama juga ya. Sehingga bisa kita temukan titik temu bahwasanya generasi-generasi pada saat itu yang memulai, dan sedikit banyak lebih tahu daripada generasi-generasi setelahnya.

Nah, generasi yang sudah jauh itu saja, belum tentu mereka melakukan berdasarkan tajribah dan kasyf, hanya mengikuti, terus menerus, tanpa ada landasan, apalagi generasi yang sekarang? Sekarang lebih amburadul, kacau balau, dengan luar biasanya canggihnya teknologi dan informasi. Penyebaran informasi “ritual-ritual” ini pun begitu mudah tersebar, dengan hanya bermodal broadcast, forward, dan anonim, berjuta-berjuta orang akan membacanya. Ditambah, para pengguna sosial saat ini lemah dalam hal mengklarifikasi, mudah terprovokasi dengan segala informasi yang diterima, alhasil beginilah jadinya.

Jika ada sebagian orang yang mendasarkan tajribah orang-orang shalih itu pada zaman ini, itu tidak relevan, pada konteks hal ini, tajribah tersebut hanya berlaku pada saat itu saja. Tidak bisa tajribah berlaku hingga berabad-abad yang menghasilkan penetapan suatu hari tertentu. Terlebih kita mengingat Hadits yang di Shahih Muslim tadi bahwa ada kemungkinan tanggalnya berubah tiap tahunnya dan semua manusia tidak tahu kapan tepatnya.

  1. Sampai sini, kurang lebih teman-teman bisa menyimpulkan apakah benar, apakah perlu, apakah baik melakukan tradisi ini, dan ingat jangan lupa dengan prinsip utama tadi. Selanjutnya, bagaimana cara menyikapi masyarakat di sekitar kita yang masih melakukan tradisi tersebut?

Di sinilah fungsi fikih dakwah. Pertama kita lihat dulu bagaimana kondisi masyarakat tersebut. Kalau kondisi masyarakat tersebut ternyata orang-orangnya memiliki tingkat intelektualitas yang cukup untuk menerima dan memahami dalil-dalil, maka cukuplah dengan membawakan dalil-dalil laa thiyarah tadi, insyaAllah langsung paham.

Nah, yang menjadi tantangan sendiri adalah mendakwahi masyarakat tradisional yang mungkin untuk mengenyam pendidikan agama saja sulit, dan lingkungannya juga masih kental dengan kepercayaan-kepercayaan terhadap hal-hal yang berbau kesyirikan. Pertama, coba edukasikan, pancing dengan sebuah pertanyaan, tanyakan asal-usulnya semisal, lalu setelah itu masukkan pengetahuan tentang rebo wekasan berdasarkan sejarahnya, lalu kemudian apa yang terjadi, kemudian barulah masuk ke dalil-dalil untuk menguatkan sekaligus menegaskan. Jikalau pun ritual berupa shalat lidaf’il bala tadi yang tidak ada tuntunannya, sulit untuk seketika ditiadakan, maka arahkan kepada shalat sunnah hajat atau shalat sunnah mutlaq, edukasikan bahwa shalat tersebut justru lebih mustajab dan tuntunannya lebih jelas. Kemudian semisal ada agenda, membaca ayat-ayat tertentu, kemudian dibaca beberapa kali, coba alihkan dengan agenda semacam khatmil Quran dan lain sebagainya. Kemudian coba dialihkan bagaimana kalau hari Jumat, di hari yang paling mulia. Saat memberikan edukasi dan arahan (taujih) tersebut, tentu saja jangan lupa disisipkan selalu penegasan bahwa tidak ada suatu hari khusus yang dianggap sial.

Terakhir, jika mentoknya masih ada sebagian masyarakat yang keberatan melewati Rabu akhir bulan Shafar tersebut tanpa ritual-ritual tertentu, sampaikan bahwa silakan boleh banyak doa, sholat, baca Quran, kapan pun, termasuk hari Rabu tadi, tapi tegaskan yang penting jangan melakukan hal itu semua karena hari Rabu tadi yang diyakini sial, sebab itu syirik. Ingat dalam berdakwah butuh kesabaran dan metode. Salah metode maka yang terjadi justru bisa sebaliknya, yang didakwahi kesal bahkan bisa menimbulkan kebencian kepada para da’i secara umum.

 

Mungkin cukup sekian dulu ya, kalau dirasa ada yang kurang atau salah, kabari saja, biar bisa langsung saya tanggapi, dan bisa langsung direvisi jika memang setelah saya kaji lebih lanjut ternyata apa yang saya sampaikan salah.

Semoga bermanfaat.

In uriidu illal islaha mastatha’tu wa maa taufiqii illa billah ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi uniib…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *