Contemplation,  Quran,  Stories,  Tadabbur

Memahami Cinta Sesungguhnya dari Sang Maha Mencintai

Apa Asma Allah yang memiliki arti Yang Maha Mencintai? Pada umumnya orang-orang akan menjawab Ar Rahman atau Ar Rahiim. Hal itu menjadi wajar sebab memang banyak dalam Al Quran yang menyebut kedua Asma Allah tersebut. Bahkan sudah banyak juga artikel yang membahas tentang kedua Asma Allah tersebut, baik dari telaah maknanya, perbedaannya, keutamaannya, dan lain sebagainya.

Tapi seringkah kalian mendengar Asma Allah “Al Waduud”? Jarang ya? Jika yang sudah hafal atau sering membaca Asmaul Husna, pasti tahu, tapi belum tentu tahu maknanya. Apalagi kalau yang tidak pernah membaca Asmaul Husna? Sangat kecil kemungkinannya. Bahkan yang pernah tilawah 30 juz Al Quran pun belum tentu ngeh. Kok bisa begitu? Sebab dari 6236 ayat yang ada di Al Quran, Asma Allah Al Wadud ini hanya disebutkan dua kali saja, yaitu satu ayat di surat Hud dan satu ayat lagi di surat Al Buruuj.

 

Wastaghfiruu Rabbakum tsumma tuubuu ilaihi, inna Rabbii Rahiimun Waduud” (Hud: 90)

 

Wahuwa al Ghafuur al Waduud” (Al Buruuj: 14)

 

Ada hal yang menarik pada ayat dalam surat Hud tersebut. Coba perhatikan, ayatnya berbunyi Rahiimun Wadud. Bukankah Ar Rahiim sendiri sudah berarti Yang Maha Mengasihi atau Yang Maha Menyayangi. Lho apa bedanya? Jika kita melihat terjemahan yang ada pada mushaf, umumnya tertulis, Waduud diartikan Yang Maha Mencintai. Namun, dengan memberikan arti yang berbeda, belum tentu setiap orang yang membacanya langsung memahami apa perbedaannya, ya kan? 🙂 dan belum tentu juga saat kita paham bedanya antara kata Mengasihi, Menyayangi, dan Mencintai, berarti otomatis memahami Rahmaan, Rahiim, dan Waduud. Sebab pemahaman yang mendalam, menafsirkan, mentadabburi Al Quran dan Asma-asma Allah tidak selalu sama saat kita berusaha memahami artinya dalam bahasa Indonesia.

Muhyiddin Imam Majdi al Din al Mubarak Ibn al Atsir mengatakan dalam kitabnya An Nihayah fi Gharib al Hadits bahwa Asma Allah Al Wadud ini  bisa mengandung dua makna, yaitu Al Wadd (yang mencintai) dan Al Mauduud (yang dicintai). Apa artinya? Hal ini menunjukkan bahwa Al Waduud memiliki makna hubungan “saling mencintai”. Al Wadd berarti Allah mencintai para hamba-Nya, dan Al Mauduud berarti Allah juga dicintai para hamba-Nya.  Sehingga makna dari Al Waduud ini bisa dikatakan merupakan contoh puncak dari suatu hubungan saling mencintai.

Coba kita perhatikan kembali kedua ayat tersebut, kita akan menemukan fakta yang menarik lagi. Ketemu? Ya, dua ayat tersebut sama-sama menyinggung soal ampunan, yang satu memerintahkan untuk memohon ampun (wastaghfiruu), dan yang satunya lagi menegaskan bahwa Allah Maha Pengampun (Ghafuur). Nah sekarang, coba cek beberapa ayat sebelumnya, sudah ketemu konteks kesempatan untuk mendapatkan ampunan itu ditujukan untuk siapa? Iya betul, yaitu Kaum Syu’aib (untuk yang surat Hud) dan Ashabul Ukhduud (untuk yang surat Al Buruuj), dua kelompok yang dapat dikatakan durhaka level tinggi. Apa maknanya? Ini bermakna bahwa Allah dengan Asma-Nya Al Waduud tersebut semakin membuktikan kesempurnaan Allah, ini menjadi jaminan bahwa Allah pasti akan tetap memberikan kesempatan kepada hamba-Nya untuk bertobat dan memohon ampun saat ia telah berbuat maksiat atau melalaikan kewajibannya, sejauh apa pun ia menjauh. Bahkan dalam saat-saat tertentu, Allah akan memberikan suatu nikmat kepada hamba-Nya tersebut sebuah nikmat yang mengarahkan dan memudahkan ia kembali ke jalan Allah, bahkan Allah membantunya dengan terus menerus menutupi kekurangan yang dimilikinya. MasyaAllah..

Tanpa Asma Allah Al Waduud, maka kita yang sudah terlalu banyak melakukan maksiat ini, sudah pasti tidak ada peluang sedikit pun untuk kembali. Sekalinya kita maksiat, lantas Allah marah, lalu kita akan dibiarkan tersesat, dan terus tersesat, selamanya. Maka, tidak ada akan ceritanya seseorang berhijrah, bertobat. Ya kan buat apa diampuni, jika Allah sudah tak mencintai kita?

Tapi kenyataannya yang terjadi adalah sebaliknya, Allah tetap sangat mencintai kita :”) dan dengan Cinta-Nya yang tiada tandingannya tersebut, Allah selalu membukakan pintu tobat untuk kita, ampunan-Nya begitu luas.

Dari sini, kita bisa memahami bahwa seperti itulah cinta yang sesungguhnya. Cinta tak bisa hanya berupa sebuah kata-kata yang terucap dari lisan. Cinta harus dibuktikan adanya rasa saling mencintai yaitu kita mencintai sekaligus kita juga dicintai oleh yang kita cintai. Saling mencintai ini bisa digambarkan dengan begitu bahagianya kita saat menerima sesuatu dari yang kita cintai, selalu merasa pemberiannya itu sangat banyak, sekali pun jika secara kuantitas masih tampak sedikit, di saat yang sama, saat kita memberi sesuatu kepada yang kita cintai, maka kita akan selalu merasa apa yang kita berikan itu masih sedikit, sekali pun jika secara kuantitas sudah tampak banyak.

Saat Allah dan hamba-Nya “saling mencintai”, yang terjadi adalah seorang hamba Allah akan selalu merasakan bahwa segala nikmat yang telah Allah berikan kepadanya adalah sesuatu yang begitu banyak, tak terhitung, meskipun sejatinya Allah memberikannya itu sangat-sangat sedikit dari keseluruhan kekayaan yang dimiliki-Nya. Pada waktu yang sama, seorang hamba Allah tersebut akan selalu merasakan bahwa ibadahnya atau segala hal yang ia lakukan demi ridho-Nya itu masih sangat sedikit, meskipun sebenarnya jika kita lihat ia sudah sangat maksimal dalam memanfaatkan waktunya untuk mendapatkan ridho-Nya.

Dari sini, kita bisa menjadikan makna Al Wadud menjadi salah satu bentuk turunan sikap kita yang diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari rasa saling mencintai antara suami dengan istri, orang tua dengan anak, suatu lembaga dengan para pegawainya, hingga bisa antara seorang warga dengan tanah airnya.

 

#Suami dan Istri yang Saling Mencintai

 

Pasangan suami istri bisa dikatakan saling mencintai, jika mereka saling mencintai dengan Cinta yang sesungguhnya, Cinta yang meniru Sang Maha Mencintai. Al Waduud, Al Wadd, Al Mauduud, Al Ghafuur.

Berusaha meniru Al Wadd: di mana seorang suami akan selalu memberikan segalanya yang terbaik untuk istrinya, mendorong seorang suami semangat mencari nafkah yang banyak dan halal. Namun saat nafkah tersebut diberikan ke istrinya sudah begitu banyak, suami tetap merasa bahwa apa yang diberikannya kepada istrinya tersebut masih kurang. Pada waktu yang sama, seorang istri akan selalu memberikan pelayanan terbaik kepada suaminya, mendorong istri selalu taat dan memberikan rasa nyaman kepada suaminya. Namun saat ia memberikan pelayanan terbaik tersebut, istri tetap merasa bahwa apa yang diberikan ke suaminya masih kurang.

Berusaha meniru Al Mauduud: di mana saat seorang istri yang menerima nafkah dari suaminya tidak banyak, namun ia tahu betul bahwa suaminya telah bekerja sekeras mungkin, maka sang istri akan qanaah dan menganggap pemberian itu adalah pemberian yang terbaik dari suaminya. Begitu juga sebaliknya, saat seorang suami menerima kenyataan bahwa pelayanan dari istri dirasa kurang, namun ia sudah tahu betul segala kekurangan yang dimiliki istrinya, maka ia akan menerimanya dengan bahagia dan sekaligus tetap menghibur istrinya yang sudah berusaha melayani sebaik mungkin tersebut untuk tidak terlalu memikirkan kekurangannya. Di saat seperti ini, makna Asma Allah Al Ghafuur juga bisa kita aplikasikan. Al Ghafuur berarti mengampuni, memaafkan, sebab Allah memahami betul apa segala kekurangan yang dimiliki hamba-Nya, dan segala ketidaktahuan hamba-Nya. Maka, bentuk aplikasinya adalah jika seorang suami dan istri sudah memahami apa saja kekurangan dari masing-masing, maka rasa saling memaafkan begitu mudah akan tumbuh di antara mereka berdua, dan setelah saling memaafkan atau bisa memaklumi kekurangannya, mereka akan terdorong untuk senantiasa saling menghibur, saling berusaha melengkapi, dan saling berusaha menutupi kekurangan yang dimiliki oleh pasangannya.

Jadi, bagi yang sudah menikah, jika makna “Al Waduud” tersebut di rasa belum tercapai, maka mulailah untuk membangun rasa atau cara pandang demikian, masih ada kesempatan untuk menuju ke arah sana. Kemudian bagi yang belum menikah, maka bisa mempersiapkan diri agar bisa mengondisikan diri kita dan pasangan kita kelak memiliki cara pandang seperti itu juga.

 

Selamat berkontemplasi. Jangan Lupa Kahfian!

 

Malam Jumat, 4 Rabiul Awwal 1441 H

Depok, Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *