Quran,  Stories

Seputar Tentang Khatmil Quran Secara Majelis

“Mengkhatamkan Al Quran adalah membaca (bisa juga murajaah) atau mempelajari (tadabbur atau tafsir) Al Quran dari awal hingga selesai dan urut.”

 

================

#Lalu, bagaimana dengan khatmil Quran yang dibaca secara bersama-sama lalu dibagi per juz atau beberapa juz? Apakah dianggap khatam?

Kalau di kampung-kampung, umumnya ada kegiatan yang dibiasa disebut tadarusan. Satu orang membaca beberapa ayat atau beberapa halaman, kemudian dilanjutkan oleh orang lain, dst hingga selesai surat An Naas. Hal itu bisa disebut khatam, namun khatam secara majelis, karena memang membaca atau belajarnya selesai dan urut secara bersama-sama. Bisa disebut “khatam membaca” jika memang kegiatannya membaca Al Quran saja, atau bisa juga “khatam mempelajari” Al Quran jika memang kegiatannya juga membahas ayat-ayat yang telah dibaca tersebut. Definisi ini juga berlaku dalam hal mempelajari kitab-kitab lain.

Namun spesifik untuk yang “membaca” Al Quran, tentu saja, khatam sendiri lebih afdhal dibanding khatam secara majelis, karena memang selesai dan urut, sepenuhnya dilakukan sendiri.

#Lalu, bagaimana dengan khatam yang membacanya ditempat masing-masing, kan tidak satu majelis?

Betul, memang tidak satu majelis secara fisik, tapi secara virtual, borderless, era saat ini, semua bisa dilakukan jarak jauh, mulai dari ziyadah, murojaah, tasmi’, tahsin, belajar kitab, dan sebagainya, maka yang ditekankan adalah bukan keberadaan fisik para pembaca, namun ditekankan pada poin bahwa para pembaca bisa mengetahui progress atau pencapaiannya.

Salah satu alasan kenapa tadarusan bisa dianggap khatam secara majelis, sebab setiap orang di majelis tersebut tahu sampai mana pencapaian mengajinya. Mereka bisa tahu karena mereka menyimak langsung. Maka dari itu, bagi khatam model majelis virtual, wajib bagi setiap orang harus mengabarkan progress bacaannya.

#Apakah tidak disimak tetap dianggap khatam?

Tetap dianggap khatam. Sama seperti saat ada orang baca Al Quran sendiri (tanpa diperdengarkan) dari awal hingga selesai atau orang yang murajaah sendiri hafalannya dari awal hingga selesai, itu tetap dianggap khatam. Coba dicek lagi definisi khatam yang sudah dipaparkan di awal, tidak ada ketentuan untuk diperdengarkan.

Tetapi yang perlu dicatat, memang betul, alangkah lebih baik bagi yang ingin khatam (baik virtual atau tidak) saat membacanya itu diperdengarkan kepada orang lain (ada yang menyimak). Kalau yang virtual berarti diperdengarkan kepada orang didekatnya di tempat masing-masing ya, bukan harus janjian kumpul di suatu tempat. Tentu saja ini tidak wajib, hanya saja lebih afdhal, yang wajib tetap tadi yaitu mengetahui progress bacaan khatam majelis tersebut.

Ada nilai plus lain jika yang khatam virtual bacaannya juga disimak, mengapa? sebab jika disimak, majelis virtual justru akan menjadi lebih baik dibandingkan dengan majelis yang secara fisik bersama, namun metode membacanya diwaktu yang bersamaan atau satu waktu (karena model ini otomatis tidak disimak, semua orang membaca), berbeda dengan majelis virtual yang sangat mungkin bacaannya untuk disimak oleh orang-orang didekatnya di tempat masing-masing.

Untuk menutupi kekurangan dari model khatam secara majelis virtual ini, maka perlu ada setidaknya satu orang yang benar-benar khatam membaca urut dari awal hingga akhir. Sehingga nantinya jikalau khatam majelis virtual ini belum bisa dikatakan sempurna pahala khatamnya (setidaknya mendapatkan pahala membaca Al Quran, insyaAllah), maka dengan adanya satu orang yang khatam, maka semua (baik yg ikut majelis khatam virtual ataupun yang hanya ikut proses khatmil Qurannya saja) akan mendapatkan keberkahan khatmil Quran, karena memang benar-benar ada yang khatam secara individu.

#Bagaimana proses khatmil Quran itu?

Hal ini pernah dicontohkan oleh sahabat Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu, yang kemudian didokumentasikan dalam salah satu hadits yang diriwayatkan oleh Ad Darimi dalam Sunannya dengan nomor hadits 3339 untuk versi Al Alamiyyah atau nomor hadits 3517 untuk cetakan Daarul Mughni Riyadh. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Albani dan Syaikh Husein Salim Ad Daroni.

Haditsnya mengisahkah seperti ini: Jadi, suatu ketika pernah beliau (Anas bin Malik) saat mengkhatam Quran, maka beliau mengumpulkan keluarga dan anak-anak dan beliau lalu mendoakan kebaikan mereka.

Perbuatan beliau itulah yang seringkali kita temui dijadikan contoh, menjadi kebiasaan di pesantren-pesantren atau masyarakat kita. Umumnya dengan cara menyisakan beberapa surat dari juz 30 untuk diperdengarkan kepada orang-orang yang telah dikumpulkan, setelah itu membaca doa untuk kebaikan semua yang ada di majelis tersebut. Kalau sekarang ada model virtual? Berarti semua yang gabung dalam majelis virtual tersebut.

#Apakah ada doa secara khusus untuk khatmil Quran?

Untuk mengenai doa khusus, memang tidak ada, tidak ada satu riwayat hadits pun yang menjelaskan hal ini. Jadi doa secara umum, bebas, tidak ada ketentuan seperti harus seberapa panjangnya, harus pakai bahasa arab atau tidak, dsb.

Lalu kalau doa khatmil Quran yang di belakang mushaf itu apa? Itu ijtihad para ulama, mereka tidak ada yang mengatakan harus baca ini atau itu. Sehingga, karena itu ijtihad, maka dalam mushaf-mushaf pun berbeda-beda bacaan doanya.

Lalu kalau beda-beda, kenapa ditulis? Para ulama kita berijtihad menuliskan sebagai “contoh” doa saja, panduan untuk kita. Perihal mau dibaca atau tidaknya tetap diserahkan kepada masing-masing. Sebab tadi karena bebas doanya apa saja, maka para ulama mencoba merumuskan doa yang terbaik dan mudah dibaca. Bagaimana cara merumuskannya? Mulai dengan memperhatikan adab, semisal harus ada kalimat “Alhamdulillah” sebagai ungkapan rasa syukur, kemudian ada juga sholawat kepada Nabi, selanjutnya mengambil doa-doa shahih yang biasa dibaca oleh Nabi, dituliskan dalam bahasa Arab sebab doa yang terbaik adalah dibaca dengan bahasa yang digunakan Al Quran yaitu bahasa Arab, kemudian ada yang menggunakan dhomir “naa” yang berarti “kita” disetiap doanya, untuk memudahkan pembaca doa untuk mendoakan setiap orang yang ada di majelis, tidak perlu mengubah-ubah lagi.

Ingat ya, karena doa khatmil Quran itu ijtihad, jangan sampai ada yang nenyandarkan doa khatmil Quran (secara full susunannya) disandarkan kepada Nabi. Kalau ada di dalamnya doa yang shahih berdasarkan hadits, maka boleh menyandarkan doa tersebut kepada Nabi (per doa yang disandarkan, bukan susunan full nya).

#Apakah ada tuntunannya sebelum akad nikah diadakan khatmil Quran? Apakah ada dalilnya?

Tentu saja untuk melihat ini, jangan dilihat sebagai satu kesatuan agenda, saat khatmil Quran maka agendanya khatmil Quran, dan saat akad nikah maka kegiatannya sebenarnya saat ijab qobul saja. Sama saja pertanyaannya seperti ini, misal apakah ada tuntunannya diadakan pengajian dulu sebelum atau setelah akad nikah? Kembali lagi itu bukan satu kesatuan, atau pertanyaan yang lebih ekstrim, apakah ada tuntunannya baca Quran setelah shalat shubuh? Apakah ada hadits spesifiknya? Sejauh yang saya tahu hingga saat ini, saya belum menemukan secara spesifik hadits tentang Nabi membaca Quran setelah shalat shubuh. Tapi apakah membaca Quran setelah shubuh otomatis dilarang? Tentu saja tidak. Maka cara membacanya adalah itu dua hal ibadah yang tidak berkaitan sama sekali, shalat shubuh selesai maka dilanjutkan dengan ibadah lain yaitu membaca Al Quran, dan itu justru tidak dilarang sama sekali, malah bagus.

Lalu yang salah bagaimana? Yang salah adalah sebelum salam pada shalat shubuhnya lalu ditambahkan dengan membaca Al Quran, baru itu tidak bisa, karena masih satu kegiatan ibadah spesifik yaitu shalat shubuh, tidak boleh ditambah-tambahkan. Yang salah adalah menganggap kegiatan khatmil Quran ini wajib dilakukan sebelum akad nikah, atau menganggap ijab qabul akan batal jika tidak didahului khatmil Quran. Cukup jelas kan ya?

#Lalu, Kenapa diadakannya sebelum akad?

Sederhana saja alasannya, karena pada saat itu kita bisa mengumpulkan banyak orang, semakin banyak orang yang kita kumpulkan maka banyak pula orang yang akan mendapat kebaikan. Begitu pula keinginan Sahabat Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu saat mengumpulkan keluarganya di acara khatmil Qurannya.

Satu hadits lagi yang diriwayatkan oleh Ad Darimi dengan nomor hadits 3346 versi Al Alamiyyah atau 3525 untuk cetakan Daarul Mughni Riyadh. Hadits ini dishahihkan oleh Syekh Husain Salim Ad Daroni. Hadits ini menjelaskan bahwa doa ketika pengkhataman Al Quran itu dikabulkan (mustajab). Doa khusus khatam Al Quran memang tidak ada, namun doa apapun yang dipanjatkan saat Khatmil Quran akan menjadi spesial (istimewa).

Catatan terakhir, kalau sudah khatam bukan berarti berhenti ya 🙂 Harus terus diulang membacanya, diulang murajaahnya, diulang tadabburnya, diulang tafsirnya. Sebab Al Quran itu bagaikan permata atau berlian yang berkilauan, bisa jadi saat kita membaca pertama atau mempelajari dari sisi yang satu, akan tampak kemilau nya di sudut-sudut tertentu. Tapi, setelah membaca ulang, atau mempelajari ulang, ternyata akan menemukan sisi kemilaunya di sudut-sudut lain. Kemudian terus diulang, semakin diulang, maka semakin banyak “kilauan” yang kita temukan. Itulah mengapa pada wahyu pertama yang Allah turunkan (Al ‘Alaq ayat 1-5), kata iqro diulang. Iqro pertama diperintahkan untuk memulainya dengan menyebut Asma-Nya, dan iqro kedua untuk mengeksplorasi ke-“Akram“-an Allah, Kemuliaan dan Kehebatan Allah yang menyimpan banyak rahasia, memiliki kilauan yang tak terhingga.

 

Demikian dari saya,
Semoga tulisan ini bermanfaat,
Mohon doanya untuk kelancaran acara kami pada hari H tanggal 23 nanti dan juga untuk kehidupan keluarga kami nanti setelah akad hingga akhir hayat kami.

Barakallahufiikum..
In uriidu illal ishlaha mastatho’tu wa maa taufiiqii illa billahi ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi uniib

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *