Madzahibul Arba’ah

Introduction

Adanya mazhab-mazhab dalam fikih membuat perpecahan? Tidak, justru itu adalah bukti bahwa Islam begitu luar biasa dan indah. Luar biasa dalam hal bahwa pengetahuan tentang ibadah baik secara vertikal maupun horizontal tak kunjung habis juga untuk dibahas, fikih itu fleksibel dan terus berkembang seiring perkembangan zaman dan perubahan sosial yang ada, antar daerah bisa berbeda, antar komunitas bisa berbeda. Beda dengan akidah, ia bersifat tetap (rigid), saklek, tak bisa diubah, semua daerah dan semua komunitas harus sama, sebab itu pondasi kita.

Mazhab-mazhab dalam fikih itu juga tanda Allah sayang pada kita. Mengapa? sebab dengan adanya mazhab-mazhab itu kita jadi memiliki pilihan dalam melakukan ibadah kita, membuat kita nyaman dalam beribadah. Maka dari itu:

  1. Dalam hal memilih untuk diri kita sendiri: Jika ada berbagai pendapat, istafti qalbak, ikuti kata hati kita ingin mengambil pendapat yang mana, selama kita tahu bahwa pendapat itu memang benar adanya, mengetahui pendapatnya siapa, dan mengetahui landasannya. Tak perlu tahu mengetahui semua pendapat, tidak semua orang bisa memiliki waktu untuk itu. Cukup pelajari saja minimal satu pendapat dari tata cara ibadah yang biasa kita lakukan. Tanyakan pada guru ngaji kita. Tak punya guru ngaji? Jika merasa ada yang salah dengan cara ibadah selama ini maka sementara tinggalkan dulu, jika merasakan sebaliknya maka sementara bisa tetap dilakukan, disaat yang sama terus mencari tahu landasannya hingga dapat.
  2. Dalam hal menyikapi orang sekitar kita yang berbeda mazhab: Pertama, jika kita menemukan yang berbeda, maka jangan langsung divonis salah. Kedua, bisa jadi kita memang belum tahu ada pendapat yang seperti itu atau juga memang itu sebenarnya kurang tepat, maka dari itu ditanyakan dulu, cari tahu dulu mengapa pendapatnya seperti itu, pahami juga kondisi sosial yang terjadi disekitarnya. Jikalau memang tak ada juga (tidak menemukan) landasannya, maka perlu diluruskan, tentu dengan cara yang elegan, sopan, dan kasih sayang. Jangan memaksa orang lain agar bermazhab sama, jangan memaksakan juga fikih di tempat satu dengan tempat yang lain jika kondisi sosialnya berbeda.
  3. Imam-imam mazhab saling mengakui kredibilitas pendapat masing-masing, maka dari itu jangan sampai kita mengatakan mazhab satu yang paling kuat dibanding yang lain. Mengapa? Sebab secara tidak langsung kita mengambil kesimpulan itu dengan mengambil posisi bahwa level kita berada di atas para imam yang notabenenya secara keimanan dan keilmuan pun begitu jauh. Kita hanya boleh mengatakan sebatas jumhur mengatakan atau mengambil pendapat yang ini, dan seterusnya, bukan adu kekuatan. Bagaimana kita bisa memutuskan mana yang kuat, jika kita berijtihad memutuskan satu persoalan fikih saja belum bisa? Jangan sampai hanya bermodal kuota internet dan gawai kita bisa langsung naik derajat keimanan dan keilmuannya. Hafal berapa hadits? Hafal Quran? Bagaimana bahasa arabnya? Udah baca berapa kitab? Sanadnya punya? Tahajud tiap malam? Puasa sunnah jalan? Sehari baca Quran berapa halaman?~ Udah tau belum memenuhi itu semua, masih bisa memutuskan pendapat yang ini paling kuat? Subhanallah.
  4. Bingung milih pendapat yang mana sebab hati kecil pun belum ada gambaran mau ikut yang mana? Tips mudahnya ikuti salah satu fatwa hukum yang kita merasa sreg atau nyaman dengan pendapat tersebut. Untuk yang sudah memiliki komunitas atau organisasi, tentu akan lebih mudah dalam memutuskan. Misal, kawan-kawan NU, yasudah ikuti saja hasil Bahtsul Masail nya NU, kawan-kawan Muhammadiyah, yasudah ikuti saja hasil Tarjih nya, kawan-kawan FPI, yasudah ikuti saja fatwa Imam Besarnya, dan lain sebagainya. Itu cara mudah dan amannya, jika kita masih bingung.
  5. Penulis di sini pernah merasakan harmoni dan keseimbangan berada di lingkungan bermazhab raksasa (multimazhab). Jika ada yang masih belum bisa menghargai pendapat mazhab lain atau bahkan memaksa agar satu warna, silakan bisa diskusi lebih lanjut melalui jaringan pribadi. 
  6. Meskipun judulnya madzahibul arba’ah (empat mazhab), tapi akan ditampilkan juga pendapat-pendapat selain empat mazhab jika memang dalam realitanya banyak yang mempraktikannya, umumnya pendapat ulama-ulama internasional kontemporer.
  7. Meskipun banyaknya mazhab ini adalah opsi, namun pada umumnya tiap orang memiliki amalan yang didominasi oleh salah satu mazhab. Misal, NU yang didominasi oleh pendapat Syafi’iyah, ada praktik amalan tertentu yang memakai mazhab selain Syafi’iyah, bahkan ada pula justru pendapat Syafi’iyah itu sendiri tidak pernah digunakan sama sekali dalam suatu praktik amalan tertentu.

Daftar Isi

Hukum shalat Jumat jika bertepatan dengan hari raya

Under construction

Tata cara pelaksanaan puasa sunnah 6 Syawal

Under construction