Why Blog?

Mengapa tidak menulis juga lewat caption di LINE, Instagram, dan sebagainya?

Saya menyadari bahwa saya masih lemah dalam mengatur emosi, perasaan hati, dan sikap saat: 1) menemukan postingan saya menjadi viral, banyak like dan komen, dan juga banyak di share. Saya masih khawatir nanti jatuhnya ujub; 2) menemukan fenomena saling komentar yang kurang beradab antar warganet saat menemukan kesalahan. Terlalu sensitif. InsyaAllah kalau sudah bisa mengaturnya, akan lewat media sosial lainnya juga.

Media-media di internet yang digunakan untuk dakwah tulisan-tulisan saya saat ini

Untuk sementara ini hanya lewat tiga media:

1) Status WhatsApp, sebab viewernya orang-orang yang kenal dekat (buktinya dengan saling memiliki no hp) dan juga bisa dibatasi viewernya, lalu tidak ada fitur like, serta dapat memberikan kritik dan saran langsung melalui obrolan pribadi sekalian silaturahmi;

2) Blog, sebab tidak diketahui siapa saja yang mengunjungi dan juga tidak ada fitur like-nya, semua orang bebas mengaksesnya, kritik dan saran bisa lewat komentar yang bisa difilter atau yang lebih elegan lagi lewat email;

3) Google+, platform media sosial satu ini, yang saya rasa masih bersih dari status-status yang tidak jelas, tidak baik, dan yang kontroversial.